A. Pengertian
Poliomilitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot.
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralysis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ketubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir kesistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralysis).
B. Gambaran Klinis
Poliomielitis terbagi menjadi empat bagian yaitu :
1. Poliomielitis asimtomatis : Setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala karena daya tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali.
2. Poliomielitis abortif : Timbul mendadak langsung beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi dan nyeri abdomen.
3. Poliomielitis non paralitik : Gejala klinik hamper sama dengan poliomyelitis abortif , hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2 hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam atau masuk kedalam fase ke2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolumna posterior.
4. Poliomielitis paralitik : Gejala sama pada poliomyelitis non paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis akut pada bayi ditemukan paralysis fesika urinaria dan antonia usus. Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain :
• Bentuk spinal. Gejala kelemahan / paralysis atau paresis otot leher, abdomen, tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas.
• Bentuk bulbar. Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi.
• Bentuk bulbospinal. Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk bulbar.
• Kadang ensepalitik. Dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun, tremor dan kadang kejang.
C. Etiologi
Penyebab poliomyelitis Family Pecornavirus dan Genus virus, dibagi 3 yaitu :
1. Brunhilde
2. Lansing
3. Leon ; Dapat hidup berbulan-bulan didalam air, mati dengan pengeringan /oksidan. Masa inkubasi : 7-10-35 hari
Klasifikasi virus
Golongan: Golongan IV ((+)ssRNA)
Familia: Picornaviridae
Genus: Enterovirus
Spesies: Poliovirus
D. Penularan
Cara penularannya dapat melalui :
a. Inhalasi
b. Makanan dan minuman
c. Bermacam serangga seperti lipas, lalat, dan lain-lain.
Penularan melalui oral berkembambang biak diusus→verimia virus+DC faecese beberapa minggu.
E. Pencegahan
Cara pencegahan dapat dilalui melalui :
1. Imunisasi
2. jangan masuk daerah endemis
3. jangan melakukan tindakan endemis
F. Patofisiologi
Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunan syaraf tertentu. Tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang biasanya terkena poliomyelitis ialah :
1. Medula spinalis terutama kornu anterior,
2. Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta formasio retikularis yang mengandung pusat vital,
3. Sereblum terutama inti-inti virmis,
4. Otak tengah “midbrain” terutama masa kelabu substansia nigra dan kadang-kadang nucleus rubra,
5. Talamus dan hipotalamus,
6. Palidum dan
7. Korteks serebri, hanya daerah motorik.
G. Komplikasi
1. Hiperkalsuria
2. Melena
3. Pelebaran lambung akut
4. Hipertensi ringan
5. Pneumonia
6. Ulkus dekubitus dan emboli paru
7. Psikosis
H. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Lab :
• Pemeriksaan darah
• Cairan serebrospinal
• Isolasi virus volio
2. Pemeriksaan radiology
I. Penatalaksanaan Medis
1. Poliomielitis aboratif
• Diberikan analgetk dan sedative
• Diet adekuat
• Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari,sebaiknya dicegah aktifitas yang berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neurskeletal secara teliti.
2. Poliomielitis non paralitik
• Sama seperti aborif
• Selain diberi analgetika dan sedative dapat dikombinasikan dengan kompres hangat selama 15 – 30 menit,setiap 2 – 4 jam.
3. Poliomielitis paralitik
• Perawatan dirumah sakit
• Istirahat total
• Selama fase akut kebersihan mulut dijaga
• Fisioterafi
• Akupuntur
• Interferon
Poliomielitis asimtomatis tidak perlu perawatan.Poliomielitis abortif diatasi dengan istirahat 7 hari jika tidak terdapat gejala kelainan aktifitas dapat dimulai lagi.Poliomielitis paralitik/non paralitik diatasi dengan istirahat mutlak paling sedikit 2 minggu perlu pemgawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralysis pernapasan.
Fase akut :
Analgetik untuk rasa nyeri otot.Lokal diberi pembalut hangat sebaiknya dipasang footboard (papan penahan pada telapak kaki) agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai..Pada poliomielitis tipe bulbar kadang-kadang reflek menelan tergaggu sehingga dapat timbul bahaya pneumonia aspirasi dalam hal ini kepala anak harus ditekan lebih rendah dan dimiringkan kesalah satu sisi.
Sesudah fase akut :
Kontraktur.atropi,dan attoni otot dikurangi dengan fisioterafy. Tindakan ini dilakukan setelah 2 hari demam hilang.
J. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan
Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan riwayat imunitas
2. pemeriksaan fisik
a. Nyeri kepala
b. Paralisis
c. Refleks tendon berkurang
d. Kaku kuduk
e. Brudzinky
K. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah
2. Hipertermi b/d proses infeksi
3. resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d paralysis otot
4. Nyeri b/d proses infeksi yang menyerang syaraf
5. Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis
6. Kecemasan pada anak dan keluarga b/d kondisi penyakit.
L. Intervensi
Dx 1 :
1.1. Kaji pola makan anak
Mengetahui intake dan output anak
1.2. Berikan makanan secara adekuat
Untuk mencakupi masukan sehingga output dan intake seimbang
1.3. Berikan nutrisi kalori, protein, vitamin dan mineral.
1.4. Timbang berat badan
Mengetahui perkembangan anak
1.5. Berikan makanan kesukaan anak
Menambah masukan dan merangsang anak untuk makan lebih banyak
1.6. Berikan makanan tapi sering
Mempermudah proses pencernaan
Dx 2 :
2.1. Pantau suhu tubuh
Untuk mencegah kedinginan tubuh yang berlebih
2.2. jangan pernah menggunakan usapan alcohol saat mandi/kompres
Dapat menyebabkan efek neurotoksi
2.3. hindari mengigil
2.4. Kompres mandi hangat durasi 20-30 menit
Dapat membantu mengurangi demam
Dx 3 :
3.1. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman
Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi dapat mencegah komplikasi.
3.2. Auskultasi bunyi nafas
Mengetahui adanya bunyi tambahan
3.3. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler
Merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru
3.4. Berikan tambahan oksigen
Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru
Dx 4 :
4.1. Lakukan strategi non farmakologis untuk membantu anak mengatasi nyeri
Theknik-theknik seperti relaksasi, pernafasan berirama, dan distraksi dapat membuat nyeri dan dapat lebih di toleransi
4.2. Libatka orang tua dalam memilih strategi
Karena orang tua adalah yang lebih mengetahui anak
4.3. Ajarkan anak untuk menggunakan strategi non farmakologis khusus sebelum nyeri.
Pendekatan ini tampak paling efektif pada nyeri ringan
4.4. Minta orang tua membantu anak dengan menggunakan srtategi selama nyeri
Latihan ini mungkin diperlukan untuk membantu anak berfokus pada tindakan yang diperlukan
4.5. Berikan analgesic sesuai indikasi.
Dx 5 :
5.1. Tentukan aktivitas atau keadaan fisik anak
Memberikan informasi untuk mengembangkan rencana perawatan bagi program rehabilitasi.
5.2. Catat dan terima keadaan kelemahan (kelelahan yang ada)
Kelelahan yang dialami dapat mengindikasikan keadaan anak
5.3. Indetifikasi factor-faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk aktif seperti
pemasukan makanan yang tidak adekuat.
Memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas
5.4. Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman
Latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan efektifan anak untuk berjalan.
Dx 6 :
6.1 Kaji tingkat realita bahaya bagi anak dan keluarga tingkat ansietas(mis.renda,sedang,
parah).
Respon keluarga bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari.
6.2 Nyatakan retalita dan situasi seperti apa yang dilihat keluarga tanpa menayakan apa
yang dipercaya.
Pasien mugkin perlu menolak realita sampai siap menghadapinya.
6.3. Sediakan informasi yang akurat sesuai kebutuhan jika diminta oleh keluarga.
Informasi yang menimbulkan ansietas dapat diberikan dalam jumlah yang dapat
dibatasi setelah periode yang diperpanjang.
6.4. Hidari harapan –harapan kosong mis ; pertanyaan seperti “ semua akan berjalan
lancar”.
Harapan –harapan palsu akan diintervesikan sebagai kurangnya pemahaman atau
kejujuran.
http://linrin.blogspot.com/2009/05/askep-poliomilitis.html
POLIOMIELITIS
Belajar mandiri
a. Pengertian
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).
Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Polio menular melalui kontak antarmanusia. Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus.
b. Etiologi
Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus dan menyebar ke SS dibawa aliran darah
c. Patofisiologi
Virus polio masuk melalui mulut dan hidung, berkembangbiak di dalam tenggorokkan dan saluran pencernaan, diserap dan disebarkan melalui system pembuluh darah dan pembuluh getah bening Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).
d. Manifestasi klinis
Terdapat 3 pola dasar pada infeksi polio
1) Infeksi subklinis ( tanpa gejala atau berlangsung kurang dari 72 jam )
Demam ringan, Sakit kepala
Tidak enak badan
Nyeri tenggoriokkan,Tenggorokkan tampak memerah
Muntah
2) Non paralitik ( gejala berlangsung 1-2 minggu)
Demam sedang
Kaku kuduk
Muntah
Diare
Kelelahan yang luar biasa
Rewel
Nyeri atau kaku punggung, lengan , tungkai dan perut
Ruam kulit atau luka dikulit yang terasa nyeri
Kekakuan otot
3) Paralitik
Demam timbul 5-7 hari sebelum gejala lainnya
Sakit kepala Kaku kuduk dan punggung
Kelemahan otot asimetrik
Onsetnya cepat
Segera berkembang
Lokasinya tergantung pada bagian korda spinalis yang terkena
Peka terhadap sentuhan
Sulit untuk memulai proses berkemih Sembeli
Perut kembung
Gangguan menelan
Nyeri dan kejang otot
e. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan lab
Pemeriksaan rutin cairan cerebrospinal
http://anakstikesgaulbanget.blogspot.com/2009/12/asuhan-keperawatan-pada-kasus-polio.html
Nona Rahadian :D
why so serious
April 21, 2010
Retinitis
Toxoplasmosis adalah suatu infeksi parasit sistemik disebabkan oleh toxoplasma gondii yang sering menyebabkan korioretinitis. Penyakit ini dapat ditemukan pada semua umut tetapi merupakan penyebab korioretinitis yang paling utama pada anak-anak. (1)
Terdapat 2 bentuk toxoplasmosis dari cara penularannya (2) :
1. Bentuk kongenital
Parasit mencapai fetus melalui plasenta. Biasanya ibu tidak menunjukkan tanda-tanda toxoplasmosis yang jelas. Pada anak yang menujukkan toxoplasmosis terdapat juga peninggian titer toxoplasmosmin pada ibu pda waktu infeksi inutero terhadap bayi, ibu belum mempunyai antibodi yang cukup. Bila sebelum ibu melahirkan telah mempunyai antibodi yang cukup, maka anak akan mati akibat reaksi antigen-antibodi dari ibu terhadap anaknya. Kelainan mata ditemukan biasanya bilateral.
2. Bentuk dewasa
Parasit ini ditemukan pda darah, liur, urin dan kototran binatang openjamu (host). Manusia dapat terkontaminasi dengan bahan yang mengandung parasit ini :
a. Terutama melalui jalan napas
b. Makanan yang kotor/mentah.
Walaupun penularan lebih mudah terjadi tetapi hanya 1% populasi yang terinfeksi yang menunjukkan tanda-tanda korioretinitis. Kelainan pada mata biasanya unilateral.
Kelainan sistemik yang dapat terlihat pada toxoplasmosis ialah (1) :
1. Limfadenopati
2. Erupsi eksamtematosa
3. Pneumoni
4. Meningoensefalitis
5. Hepatitis (ikterus)
6. Miokarditis.
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN RETINITIS
AKIBAT TOXOPLASMOSIS
A. Diagnosis
Toxoplasmosis Okuler
Toxoplasma dianggap sebagai penyebab 30-50% uveitis posterior. Syamsoe pada penelitiannya dalam periode Januari 1981 – Maret 1982 terhadap 144 penderita uveitis menemukan 8 (5,56%) kasus disebabkan oleh toksoplasmosis. Selain menyebabkan uveitis, Toxoplasmosma gondii menyebabkan retinitis. Selanjutnya dapat menjadi retinokoroditis dan papilitis. Sejak kurang lebih 65 tahun yang lalu yaitu ketika sejenis protozoa yang bentuknya mirip Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan oleh Janku seorang oftalmolog Tsejechoslowakia pada jaringan mata seorang penderita toksoplasmosis kongenital, toksopmasmosis okuler sering ditemukan sebagai penyebab retinokoroiditis. Parasit ini dalam retina akan berada di lapisan yang paling atas yaitu lapisan serabut saraf retina. Parasit ini yang hidupnya intrasel dapat menetap di dalam kista untuk waktu yang lama selama viulensinya rendah dan daya tahan hospes tinggi (5).
Toksoplasmosis okuler dikenal mempunyai 2 bentuk yaitu kongenityal dan didapat. Gambaran klinik toksoplasmosis okuler antara lain :
Gejala subyektif berupa :
1. Penurunan tajam penglihatan
a. Lesi retinitis atau retinokoroiditis di daerah sentral retina yang disebut makula atau daerah antara makula dan N. optikus yang disebut papilomuskular/bundle.
b. Terkenanya nervus optikus.
c. Kekeruhan vitreus yang tebal.
d. Edema retina
2. Biasa tidak ditemukan rasa sakit, kecuali bila sudah timbul gejala lain yang menyertai yaitu iridosiklitis atau uveitis anterior yang juga disertai rasa silau. Pada keadaan ini ,mata menjadi merah.
3. “Floaters” atau melihat bayangan-bayangan yang bergerak-gerak oleh adanya sel-sel dalam korpus vitreus.
4. Fotopsia, melihat kilatan-kilatan cahaya yang menunjukkan adanya tarikan-tarikan terhadap retina oleh vitreus.
Gejala obyektif berupa :
1. Mata tampak tenang. Pada anak-anak sering ditemukannya strabismus. Ini terjadi bila lesi toksoplasmosis kongenital terletak di daerah makula yang diperlukan untuk penglihatan tajam dan dalam keadaan normal berkembang sejak lahir sampai usia 6 tahun. Akibat adanya lesi, mata tidak dapat berfiksasi sehingga kedudukan bola mata ini berubah ke arah luar.
2. Pada pemeriksaan oftalmoskop tampak gambaran sebagai berikut :
a. Retinitis atau retinikoroiditis yang nekrotik. Lesi berupa fokus putih kekuningan yang soliter atau multipel, yang terletak terutama di polus posterior, tetapi dapat juga di bagian perifer retina.
b. Papilitis atau edema papil.
c. Kelainan vitreus atau vitritis.
Pada vitritis yang ringan akan tampak sel-sel. Sering sekali vitritis begitu berat, sehingga visualisasi fundus okuli terganggu.
d. Uveitis anterior atau iridosiklitis, dan skleritis
Gejala ini dapat mengikuti kelainan pada segmen posterior mata yang mengalami serangan berulang yang berat (5).
Toxoplasma jarang sekali meninvasi korpus vitreum karena sifatnya yang merupakan parasit intraseluler. Retina merupakan bagian yang paling sering terinfeksi dan mengalami kerusakan terparah. Pengetahuan mengenai sifat organisme maupun siklus hidupnya dapat membantu menjelaskan perjalanan penyakit dan memudahkan seorang dokter untuk menegakkan diagnosis.
Patogenesis Toxoplasmosis Okuler
Toxoplasma gondii bersifat neurotrofik dan telah ditunjukkan pada lokasinya di dalam retina mata manusia. Struktur yang berdekatan dengan koroid, sklera dan vitrues secara sekunder terlibat. Sebuah daerah granuloma dibentuk di retina, berisi zona sentraldari nekrosis dan leukosit polimorfonuklear. Sebuah zone dari sel plasma, limfosit, dan sel raksasa mengelilingi daerah nekrosis. Bentuk trofozoit dan kista dari toxoplasma biasanya mudah ditunjukkan pada retina yang terkena. Susunan retina mengalami kerusakan menyeluruh secara lokal. Keterlibatan respon radang yang hebat menyebabkan jumlah kerusakan jaringan yang layak. Debris seluler daneksudat radang dilepaskan ke dalam cavum vitreus dari retinitis aktif.
Toxoplasmosis Kongenital
Transmisi kongenital toxoplasmosis sering terjadi ketika seorang wanita terinfeksi Toxoplasma gondii sewaktu hamil. Transmisi transplasentar terjadi pada 33-24% dari kasus. Bayi yang lahir dari wanita yang mempunyai antibodi terhadap toxoplasma gondii sebelumnya tidak akan menderita toxoplasmosis kongenital. Seorang ibu yang mempunyai seorang anak yang menderita toxoplasmosis kongenital umumnya tidak akan mendapatkan anak yang terinfeksi lagi, tetapi beberapa artikel terakhir menunjukkan kemungkinan tersebut pada infeksi kronis intrauterin. Penyakit yang diderita janin umumnya lebih berat daripada ibunya. Transmisi tranplasental Toxoplasmosis gondii meningkat ketika terjadi pada trimester kedua dan ketiga kehamilan, akan tetapi penyakit yang diderita oleh janin akan lebih parah ketika infeksi terjadi pada trimester pertema. (3)
Infeksi toxoplasma transplasenta menyebabkan 45% bayi menunjukkan toxoplasmosis kongenital. Sedangkan penulis lain menunjukkan angka 33-44% kejadian tersebut pada toxoplasmosis kongenital. Infeksi prenatal dapat menyebabkan kematian atau retardasi yang berat pada 15% bayi yang menderita toxoplasmosis kongenital. 19% dari toxoplasma kongenital menunjukkan gejala penyakit yang ringan bahkan tampak normal pada bayi yang terinfeksi. Bukti menunjukkan infeksi retina yang terjadi pada kasus yang ringan tidak memperlihatkan gejala sampai beberapa tahun. (7)
Toxoplasmosis kongenital cenderung bilateral (85%), sedangkan toxoplasmosis didapat unilateral. Toxoplasmosis didapat biasa dianggap sebagai aktivasi dari bentuk kongenital. Pada keadaan ini kista pecah sehingga timbul retinitis yang aktif. Toxoplasmosis didapat yang paling menyulitkan oftalmolog, karena walaupun telah diberikan pengobatan yang sesuai, penyakit ini merusak bagian vital dari retina sehingga sebagain besar penderita dengan penyakit ini menjadi buta (5).
Perkiraan infeksi intrauterin toxoplasma di Amerika Serikat berkisar antara 4.200 sa,pai 16.800 kasus per tahun. Enchepalitis toxoplasma dilaporkan pada penderita immunocompromised dan umumnya pada penderita AIDS. Toxoplasma gondii juga dilaporkan sebagai salah satu penyebab terbanyak retinokhoroiditis dan uveitis posterior, yang terjadi terutama pada dekade kedua dan ketiga kehidupan (3).
Insidens toxoplasmosis kongenital di berbagai negara adalah sebagai berikut : Belanda 6,5%, Norwegia 1%, New York 1,3%, Paris 1%. Angka pasti di Indonesia belumd iketahui namun kasus toxoplasmosis kongenital telah banyak dilaporkan. Banyaknya ibu hamil yang terinfeksi toxoplasmosis gondii dipengaruhi banyaknya faktor antara lain kebiasaan makan daging kurang matang adanya ookista di tanah sebagai sumber infeksi dan adanya kucing terutama yang dipelihara sebagai hewan kesayangan (4). Bila seorang ibu hamil mendapatkan infeksi primer maka ada kemungkinan 40% janin yang dikandung terinfeksi toxoplasmosis gondii. Akibat yang dapat terjadi adalah abortus, lahir mati, kelahiran prematur, atau bagi bayi yang dilahirkan menderita toxoplasmosis gondii (3).
Triad klasik toxoplasmosis kongenital adalah hidrosefalus, klasifikasi serebral dan koreoarefinitis. Koreoafinitis merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan dan dapat pula gejala satu-satunya. Selanjutnya pada anak yang menderita toxoplasmosis kongenital tersebut dapat terjadi kebutaan, strabismus, atau mikrophthalmia dan berbagai kelainan organ lain (4).
Manifestasi Klinik
Bila ibu hamil terinfeksi toxoplasma, dapat terjadi beberapa kemungkinan pada janin :
1. Abortus atau lahir mati
2. Bayi tidak terinfeksi
3. Bayi terinfeksi tanpa gejala klinik
4. Bayi terinfeksi tanpa gejala klinik pada mulanya, kemudian timbul gejala klinik di kemudian hari
5. Bayi terinfeksi dengan gejala subklinik.
6. Bayi terinfeksi dengan gejala sistemik.
7. Bayi terinfeksi dengan gejala neurologik dengan atau tanpa korioretinitis.
8. Bayi terinfeksi dengan gejala korioretinitis (6)
Apakah toksoplasmosis dapat menyebabkan abortus atau lahir mati masih merupakan kontroversi. Telah dilaporkan toksoplasmosis sebagai penyebab abortus habitualis atau lahir mati. Peneliti lain berpendapat bahwa kemungkinan abortus disebabkan toksoplasma sangat kecil (6).
Sebanyak 90% kasus merupakan kasus asimtomatik bila diperiksa secara biasa, tetapi bila dilakukan pemeriksaan teliti meliputi funduskopi mungkin hanya sekitar 60% kasus yang merupakan kasus asimtomatik. Satu-satunya cara pembuktian pada kasus asimtomatik adalah pemeriksaan serologi baik pada ibu maupun bayi. Diantara 5 kasus yang lahir di RSCM, sebanyak 2 kasus tidak menunjukkan gejala klinik (6).
Pada penelitian jangka panjang terhadap bayi yang semula asimtomatik ternyata timbul gejala klinik di kemudian hari. Korioretinitis dapat timbul beberapa tahun kemudian. Terjadinya tuli bilateral, mikrosefalsu dan IQ yang rendah meningkat pada ibu yang mempunyai antibodi tinggi. Rendahnya IQ dilaporkan pula pada kasus toksoplasma kongenital subklinik. Bila terdapat kasus asimtomatik tersebut diberikan pengobatan, risiko menurunnya IQ akan berkurang. Dapat terjadi pula hidrosefalus, kejang, disfungi serebralis, atau rekativasi toxoplasma serebral (6)
Toxoplasma tidak mempunyai efek teratogenik dan semua kelainan disebabkan oleh proses destruksi dan inflamasi selain efek destruksi langsung, terdapat kemungkinan bahwa kerusakan jaringan disebabkan respon imunologik jaini terhadap parasit. Munculnya korioretinitis beberapa bulan sampai beberapa tahun kemudian mendukung kemungkinan ini.
Manifestasi klinik dapat dibagi menjadi kasus dengan gejala neurologik dan kasus dengan gejala sistemik. Korioretinitis merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan dan dapat pula merupakan gejala satu-satunya. Lebih tepat disebut sebagai retinokoroiditis karena organisme bersarang pada retina dan mengakibatkan retinitis nekrotikans primer dengan terkenanya koroid secara sekunder. Makula merupakan daerah yang paling sering terkena dan lesi biasanya ditemukan bilateral. Lesi aktif pada mulanya berwarna kekuningan dengan batas tidak jelas tertutup eksudat. Bila terjadi kerusakan hebat, terlihat sklera yang keputihan dengan hiperpigmentasi tepi retina dan jaruingan parut gliotik. Besar lesi dapat mencapai 3-4 kali diameter diskus. Lesi dapat pula multipel atau unilateral, atau lesi mengenai makula pada satu mata dn mengenai bagian perifer retina pada mata lain (6).
Pecahnya kista pada tepi berpigmen dari jaringan parut retina menyebabkan lepasnya organisme kemudian membentuk lesi satelit kecil di sekitar lesi primer. Gangguan visus dapat berupa skotoma sampai buta total tergantung luasnya lesi. Dapat pula bermanifestasi sebagai miopia atau strabismus. Reaktivasi korioretinitis dapat terjadi setiap waktu (6).
Telah diperkirakan bahwa 11% dari anak-anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi dengan toksoplasmosis akut akan berkembang menjadi toxoplasmosis umum yang gawat, yang mungkin dapat berakibat fatal. Kebanyak dari bayi-bayi ini akan memiliki penyakit okuler bilateral dan 1,2% akan hanya memiliki penyakit okluer dengan tidak ada bukti lain dari penyakit sistemik.
Keterlibatan okuler dalam kasus kongenital adalah selalu bilateral dan tidak mudah dibedakan (dalam fase aktif) dengan toksoplasmosis okular didapat. Infeksi okular yang ganas sering menimbulkan nistgamus, katarak,membran pupilar, organisasi vitreus, dan mikrofthalmus. Beberapa bayi umumnya mempunyai penyakit susunan saraf pusat umum dan anomali berkembang lainnya.
Diagnostik Pemeriksaan Penunjang :
1. Pemeriksaan laboratorik yang dapat menyokong
a. Sabin dye test. Sebenarnya toksoplasma dapat terikat dengan zat warna biru metilen. Tetapi antibodi terhadap toksoplasma pada pasien toksoplasmosis dapat mencegah ikatan antara toksoplasma dengan zat warna tersebut. Nilai titer toksoplasmin ditentukan berdasarkan harga pengenceran serum penderita di mana hanya 50% toksoplasma yang dapat diwarnai oleh zat-zat warna biru metilen. Nilai yang positif hasil tes adalah peningkatan nilai titer tersebut. Nilai positif yang menyokong adalah nilai titer yang positif pada pengenceran 1/256.
2. Tes fiksasi/pengikatan komplemen
Antigen yang berasal dari selaput koriolantois yang telah diinjeksi dapat berikatan dengan serum penderita bila terdapat komplemen. Bila 1 dari tabung menunjukkan hasil yang positif maka hasil tes dianggap menyokong adanya toksoplasmosis.
3. Teknik antibodi fluoresensi indirek.
4. Tes hemaglutinasi indirek.
5. Tes kulit toksoplasmin.
Pemeriksaan lengkap bagi anak-anak :
- Foto Rontgen tengkorak di mana terlihat perkapuran.
B. Penatalaksanaan
- Pirimetamin
- Sulfadiazin
- Spiramisin
- Fotokoagulasi atau kauter krio dipakai untuk pengobatan toxoplasma
DAFTAR PUSTAKA
1. Tabbara, KF, 1987, Toksoplasmosis in Clinical Ophtalmology, Herper & Row Publisher, Philadelpia, USA.
2. Sidarta Ilyas, dkk, 2000, Sari Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FK UI, cetakan 2, Jakarta.
3. Freitas D, Dunkel EC, 1994, Parasitic ang richettsial infection in Principle and practice of Opthalmology Basic Sciences, WB Saunders Company, Philadelphia, USA.
4. Gandahusada S, 1988, Diagnosis dan Tatalaksana Penanganan Toksoplasmosis, Seminar sehari Penyakit-penyakit manusia yang ditularkan oleh hewan piaraan, Jakarta.
5. Kadarisman, Rumita S, 1990, Gambaran Klinik Toksoplasmosis Kongenital, dalam Kumpulan Makalah Simposium Toksoplasmosis, Balai Penerbit FK UI, Jakarta.
6. Pusponegoro, HD., Boedjang, RF, 1990. Toksoplasmosis pada bayi dan akan dalam Kumpulan Makalah Simposium Toxoplasma, Balai Penerbit FK dalam Unit, Jakarta.
7. Tesler H, 1983, Uveitis in Principle and Practice of Opthalmologi Vol. II, Universitas Book Publishing Company, Chicago, USA.
Terdapat 2 bentuk toxoplasmosis dari cara penularannya (2) :
1. Bentuk kongenital
Parasit mencapai fetus melalui plasenta. Biasanya ibu tidak menunjukkan tanda-tanda toxoplasmosis yang jelas. Pada anak yang menujukkan toxoplasmosis terdapat juga peninggian titer toxoplasmosmin pada ibu pda waktu infeksi inutero terhadap bayi, ibu belum mempunyai antibodi yang cukup. Bila sebelum ibu melahirkan telah mempunyai antibodi yang cukup, maka anak akan mati akibat reaksi antigen-antibodi dari ibu terhadap anaknya. Kelainan mata ditemukan biasanya bilateral.
2. Bentuk dewasa
Parasit ini ditemukan pda darah, liur, urin dan kototran binatang openjamu (host). Manusia dapat terkontaminasi dengan bahan yang mengandung parasit ini :
a. Terutama melalui jalan napas
b. Makanan yang kotor/mentah.
Walaupun penularan lebih mudah terjadi tetapi hanya 1% populasi yang terinfeksi yang menunjukkan tanda-tanda korioretinitis. Kelainan pada mata biasanya unilateral.
Kelainan sistemik yang dapat terlihat pada toxoplasmosis ialah (1) :
1. Limfadenopati
2. Erupsi eksamtematosa
3. Pneumoni
4. Meningoensefalitis
5. Hepatitis (ikterus)
6. Miokarditis.
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN RETINITIS
AKIBAT TOXOPLASMOSIS
A. Diagnosis
Toxoplasmosis Okuler
Toxoplasma dianggap sebagai penyebab 30-50% uveitis posterior. Syamsoe pada penelitiannya dalam periode Januari 1981 – Maret 1982 terhadap 144 penderita uveitis menemukan 8 (5,56%) kasus disebabkan oleh toksoplasmosis. Selain menyebabkan uveitis, Toxoplasmosma gondii menyebabkan retinitis. Selanjutnya dapat menjadi retinokoroditis dan papilitis. Sejak kurang lebih 65 tahun yang lalu yaitu ketika sejenis protozoa yang bentuknya mirip Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan oleh Janku seorang oftalmolog Tsejechoslowakia pada jaringan mata seorang penderita toksoplasmosis kongenital, toksopmasmosis okuler sering ditemukan sebagai penyebab retinokoroiditis. Parasit ini dalam retina akan berada di lapisan yang paling atas yaitu lapisan serabut saraf retina. Parasit ini yang hidupnya intrasel dapat menetap di dalam kista untuk waktu yang lama selama viulensinya rendah dan daya tahan hospes tinggi (5).
Toksoplasmosis okuler dikenal mempunyai 2 bentuk yaitu kongenityal dan didapat. Gambaran klinik toksoplasmosis okuler antara lain :
Gejala subyektif berupa :
1. Penurunan tajam penglihatan
a. Lesi retinitis atau retinokoroiditis di daerah sentral retina yang disebut makula atau daerah antara makula dan N. optikus yang disebut papilomuskular/bundle.
b. Terkenanya nervus optikus.
c. Kekeruhan vitreus yang tebal.
d. Edema retina
2. Biasa tidak ditemukan rasa sakit, kecuali bila sudah timbul gejala lain yang menyertai yaitu iridosiklitis atau uveitis anterior yang juga disertai rasa silau. Pada keadaan ini ,mata menjadi merah.
3. “Floaters” atau melihat bayangan-bayangan yang bergerak-gerak oleh adanya sel-sel dalam korpus vitreus.
4. Fotopsia, melihat kilatan-kilatan cahaya yang menunjukkan adanya tarikan-tarikan terhadap retina oleh vitreus.
Gejala obyektif berupa :
1. Mata tampak tenang. Pada anak-anak sering ditemukannya strabismus. Ini terjadi bila lesi toksoplasmosis kongenital terletak di daerah makula yang diperlukan untuk penglihatan tajam dan dalam keadaan normal berkembang sejak lahir sampai usia 6 tahun. Akibat adanya lesi, mata tidak dapat berfiksasi sehingga kedudukan bola mata ini berubah ke arah luar.
2. Pada pemeriksaan oftalmoskop tampak gambaran sebagai berikut :
a. Retinitis atau retinikoroiditis yang nekrotik. Lesi berupa fokus putih kekuningan yang soliter atau multipel, yang terletak terutama di polus posterior, tetapi dapat juga di bagian perifer retina.
b. Papilitis atau edema papil.
c. Kelainan vitreus atau vitritis.
Pada vitritis yang ringan akan tampak sel-sel. Sering sekali vitritis begitu berat, sehingga visualisasi fundus okuli terganggu.
d. Uveitis anterior atau iridosiklitis, dan skleritis
Gejala ini dapat mengikuti kelainan pada segmen posterior mata yang mengalami serangan berulang yang berat (5).
Toxoplasma jarang sekali meninvasi korpus vitreum karena sifatnya yang merupakan parasit intraseluler. Retina merupakan bagian yang paling sering terinfeksi dan mengalami kerusakan terparah. Pengetahuan mengenai sifat organisme maupun siklus hidupnya dapat membantu menjelaskan perjalanan penyakit dan memudahkan seorang dokter untuk menegakkan diagnosis.
Patogenesis Toxoplasmosis Okuler
Toxoplasma gondii bersifat neurotrofik dan telah ditunjukkan pada lokasinya di dalam retina mata manusia. Struktur yang berdekatan dengan koroid, sklera dan vitrues secara sekunder terlibat. Sebuah daerah granuloma dibentuk di retina, berisi zona sentraldari nekrosis dan leukosit polimorfonuklear. Sebuah zone dari sel plasma, limfosit, dan sel raksasa mengelilingi daerah nekrosis. Bentuk trofozoit dan kista dari toxoplasma biasanya mudah ditunjukkan pada retina yang terkena. Susunan retina mengalami kerusakan menyeluruh secara lokal. Keterlibatan respon radang yang hebat menyebabkan jumlah kerusakan jaringan yang layak. Debris seluler daneksudat radang dilepaskan ke dalam cavum vitreus dari retinitis aktif.
Toxoplasmosis Kongenital
Transmisi kongenital toxoplasmosis sering terjadi ketika seorang wanita terinfeksi Toxoplasma gondii sewaktu hamil. Transmisi transplasentar terjadi pada 33-24% dari kasus. Bayi yang lahir dari wanita yang mempunyai antibodi terhadap toxoplasma gondii sebelumnya tidak akan menderita toxoplasmosis kongenital. Seorang ibu yang mempunyai seorang anak yang menderita toxoplasmosis kongenital umumnya tidak akan mendapatkan anak yang terinfeksi lagi, tetapi beberapa artikel terakhir menunjukkan kemungkinan tersebut pada infeksi kronis intrauterin. Penyakit yang diderita janin umumnya lebih berat daripada ibunya. Transmisi tranplasental Toxoplasmosis gondii meningkat ketika terjadi pada trimester kedua dan ketiga kehamilan, akan tetapi penyakit yang diderita oleh janin akan lebih parah ketika infeksi terjadi pada trimester pertema. (3)
Infeksi toxoplasma transplasenta menyebabkan 45% bayi menunjukkan toxoplasmosis kongenital. Sedangkan penulis lain menunjukkan angka 33-44% kejadian tersebut pada toxoplasmosis kongenital. Infeksi prenatal dapat menyebabkan kematian atau retardasi yang berat pada 15% bayi yang menderita toxoplasmosis kongenital. 19% dari toxoplasma kongenital menunjukkan gejala penyakit yang ringan bahkan tampak normal pada bayi yang terinfeksi. Bukti menunjukkan infeksi retina yang terjadi pada kasus yang ringan tidak memperlihatkan gejala sampai beberapa tahun. (7)
Toxoplasmosis kongenital cenderung bilateral (85%), sedangkan toxoplasmosis didapat unilateral. Toxoplasmosis didapat biasa dianggap sebagai aktivasi dari bentuk kongenital. Pada keadaan ini kista pecah sehingga timbul retinitis yang aktif. Toxoplasmosis didapat yang paling menyulitkan oftalmolog, karena walaupun telah diberikan pengobatan yang sesuai, penyakit ini merusak bagian vital dari retina sehingga sebagain besar penderita dengan penyakit ini menjadi buta (5).
Perkiraan infeksi intrauterin toxoplasma di Amerika Serikat berkisar antara 4.200 sa,pai 16.800 kasus per tahun. Enchepalitis toxoplasma dilaporkan pada penderita immunocompromised dan umumnya pada penderita AIDS. Toxoplasma gondii juga dilaporkan sebagai salah satu penyebab terbanyak retinokhoroiditis dan uveitis posterior, yang terjadi terutama pada dekade kedua dan ketiga kehidupan (3).
Insidens toxoplasmosis kongenital di berbagai negara adalah sebagai berikut : Belanda 6,5%, Norwegia 1%, New York 1,3%, Paris 1%. Angka pasti di Indonesia belumd iketahui namun kasus toxoplasmosis kongenital telah banyak dilaporkan. Banyaknya ibu hamil yang terinfeksi toxoplasmosis gondii dipengaruhi banyaknya faktor antara lain kebiasaan makan daging kurang matang adanya ookista di tanah sebagai sumber infeksi dan adanya kucing terutama yang dipelihara sebagai hewan kesayangan (4). Bila seorang ibu hamil mendapatkan infeksi primer maka ada kemungkinan 40% janin yang dikandung terinfeksi toxoplasmosis gondii. Akibat yang dapat terjadi adalah abortus, lahir mati, kelahiran prematur, atau bagi bayi yang dilahirkan menderita toxoplasmosis gondii (3).
Triad klasik toxoplasmosis kongenital adalah hidrosefalus, klasifikasi serebral dan koreoarefinitis. Koreoafinitis merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan dan dapat pula gejala satu-satunya. Selanjutnya pada anak yang menderita toxoplasmosis kongenital tersebut dapat terjadi kebutaan, strabismus, atau mikrophthalmia dan berbagai kelainan organ lain (4).
Manifestasi Klinik
Bila ibu hamil terinfeksi toxoplasma, dapat terjadi beberapa kemungkinan pada janin :
1. Abortus atau lahir mati
2. Bayi tidak terinfeksi
3. Bayi terinfeksi tanpa gejala klinik
4. Bayi terinfeksi tanpa gejala klinik pada mulanya, kemudian timbul gejala klinik di kemudian hari
5. Bayi terinfeksi dengan gejala subklinik.
6. Bayi terinfeksi dengan gejala sistemik.
7. Bayi terinfeksi dengan gejala neurologik dengan atau tanpa korioretinitis.
8. Bayi terinfeksi dengan gejala korioretinitis (6)
Apakah toksoplasmosis dapat menyebabkan abortus atau lahir mati masih merupakan kontroversi. Telah dilaporkan toksoplasmosis sebagai penyebab abortus habitualis atau lahir mati. Peneliti lain berpendapat bahwa kemungkinan abortus disebabkan toksoplasma sangat kecil (6).
Sebanyak 90% kasus merupakan kasus asimtomatik bila diperiksa secara biasa, tetapi bila dilakukan pemeriksaan teliti meliputi funduskopi mungkin hanya sekitar 60% kasus yang merupakan kasus asimtomatik. Satu-satunya cara pembuktian pada kasus asimtomatik adalah pemeriksaan serologi baik pada ibu maupun bayi. Diantara 5 kasus yang lahir di RSCM, sebanyak 2 kasus tidak menunjukkan gejala klinik (6).
Pada penelitian jangka panjang terhadap bayi yang semula asimtomatik ternyata timbul gejala klinik di kemudian hari. Korioretinitis dapat timbul beberapa tahun kemudian. Terjadinya tuli bilateral, mikrosefalsu dan IQ yang rendah meningkat pada ibu yang mempunyai antibodi tinggi. Rendahnya IQ dilaporkan pula pada kasus toksoplasma kongenital subklinik. Bila terdapat kasus asimtomatik tersebut diberikan pengobatan, risiko menurunnya IQ akan berkurang. Dapat terjadi pula hidrosefalus, kejang, disfungi serebralis, atau rekativasi toxoplasma serebral (6)
Toxoplasma tidak mempunyai efek teratogenik dan semua kelainan disebabkan oleh proses destruksi dan inflamasi selain efek destruksi langsung, terdapat kemungkinan bahwa kerusakan jaringan disebabkan respon imunologik jaini terhadap parasit. Munculnya korioretinitis beberapa bulan sampai beberapa tahun kemudian mendukung kemungkinan ini.
Manifestasi klinik dapat dibagi menjadi kasus dengan gejala neurologik dan kasus dengan gejala sistemik. Korioretinitis merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan dan dapat pula merupakan gejala satu-satunya. Lebih tepat disebut sebagai retinokoroiditis karena organisme bersarang pada retina dan mengakibatkan retinitis nekrotikans primer dengan terkenanya koroid secara sekunder. Makula merupakan daerah yang paling sering terkena dan lesi biasanya ditemukan bilateral. Lesi aktif pada mulanya berwarna kekuningan dengan batas tidak jelas tertutup eksudat. Bila terjadi kerusakan hebat, terlihat sklera yang keputihan dengan hiperpigmentasi tepi retina dan jaruingan parut gliotik. Besar lesi dapat mencapai 3-4 kali diameter diskus. Lesi dapat pula multipel atau unilateral, atau lesi mengenai makula pada satu mata dn mengenai bagian perifer retina pada mata lain (6).
Pecahnya kista pada tepi berpigmen dari jaringan parut retina menyebabkan lepasnya organisme kemudian membentuk lesi satelit kecil di sekitar lesi primer. Gangguan visus dapat berupa skotoma sampai buta total tergantung luasnya lesi. Dapat pula bermanifestasi sebagai miopia atau strabismus. Reaktivasi korioretinitis dapat terjadi setiap waktu (6).
Telah diperkirakan bahwa 11% dari anak-anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi dengan toksoplasmosis akut akan berkembang menjadi toxoplasmosis umum yang gawat, yang mungkin dapat berakibat fatal. Kebanyak dari bayi-bayi ini akan memiliki penyakit okuler bilateral dan 1,2% akan hanya memiliki penyakit okluer dengan tidak ada bukti lain dari penyakit sistemik.
Keterlibatan okuler dalam kasus kongenital adalah selalu bilateral dan tidak mudah dibedakan (dalam fase aktif) dengan toksoplasmosis okular didapat. Infeksi okular yang ganas sering menimbulkan nistgamus, katarak,membran pupilar, organisasi vitreus, dan mikrofthalmus. Beberapa bayi umumnya mempunyai penyakit susunan saraf pusat umum dan anomali berkembang lainnya.
Diagnostik Pemeriksaan Penunjang :
1. Pemeriksaan laboratorik yang dapat menyokong
a. Sabin dye test. Sebenarnya toksoplasma dapat terikat dengan zat warna biru metilen. Tetapi antibodi terhadap toksoplasma pada pasien toksoplasmosis dapat mencegah ikatan antara toksoplasma dengan zat warna tersebut. Nilai titer toksoplasmin ditentukan berdasarkan harga pengenceran serum penderita di mana hanya 50% toksoplasma yang dapat diwarnai oleh zat-zat warna biru metilen. Nilai yang positif hasil tes adalah peningkatan nilai titer tersebut. Nilai positif yang menyokong adalah nilai titer yang positif pada pengenceran 1/256.
2. Tes fiksasi/pengikatan komplemen
Antigen yang berasal dari selaput koriolantois yang telah diinjeksi dapat berikatan dengan serum penderita bila terdapat komplemen. Bila 1 dari tabung menunjukkan hasil yang positif maka hasil tes dianggap menyokong adanya toksoplasmosis.
3. Teknik antibodi fluoresensi indirek.
4. Tes hemaglutinasi indirek.
5. Tes kulit toksoplasmin.
Pemeriksaan lengkap bagi anak-anak :
- Foto Rontgen tengkorak di mana terlihat perkapuran.
B. Penatalaksanaan
- Pirimetamin
- Sulfadiazin
- Spiramisin
- Fotokoagulasi atau kauter krio dipakai untuk pengobatan toxoplasma
DAFTAR PUSTAKA
1. Tabbara, KF, 1987, Toksoplasmosis in Clinical Ophtalmology, Herper & Row Publisher, Philadelpia, USA.
2. Sidarta Ilyas, dkk, 2000, Sari Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FK UI, cetakan 2, Jakarta.
3. Freitas D, Dunkel EC, 1994, Parasitic ang richettsial infection in Principle and practice of Opthalmology Basic Sciences, WB Saunders Company, Philadelphia, USA.
4. Gandahusada S, 1988, Diagnosis dan Tatalaksana Penanganan Toksoplasmosis, Seminar sehari Penyakit-penyakit manusia yang ditularkan oleh hewan piaraan, Jakarta.
5. Kadarisman, Rumita S, 1990, Gambaran Klinik Toksoplasmosis Kongenital, dalam Kumpulan Makalah Simposium Toksoplasmosis, Balai Penerbit FK UI, Jakarta.
6. Pusponegoro, HD., Boedjang, RF, 1990. Toksoplasmosis pada bayi dan akan dalam Kumpulan Makalah Simposium Toxoplasma, Balai Penerbit FK dalam Unit, Jakarta.
7. Tesler H, 1983, Uveitis in Principle and Practice of Opthalmologi Vol. II, Universitas Book Publishing Company, Chicago, USA.
FISIOLOGI PENGLIHATAN..
FISIOLOGI ORBITA
PALPEBRA :
Dapat mengedip dan membuka kelopak. Bekerja sebagai diagfragma. Bila tidak dapat menutup disebut : Lagoptalmus. Bila palpebra menjadi kering disebut : Xerosis. Terutama waktu tidur, jika terjadi laggoptalmus—> maka kering ( xerosis ) sehingga mudah terjadi infeksi, maka terjadi keratitis dan lagoptalmus. Bila mata tidak dapat membuka dengan sempurna disebut : Ptosis
- Ptosis Partial : Biasanya terdapat kelainan musculus levator palpebra dan bersifat kongenital.
- Ptosis Total : Disebabkan oleh kelumpuhan syaraf III (Okulomotorius ) dan causa trauma.
KONJUNGTIVA :
Merupakan membran mukosa yang meliputi palpebra dan bola mata. Ada tiga bagian :
1. Konjungtiva forniks :
Struktur sama dengan palpebra. Hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan mengandung banyak pembuluh darah. Terdapat saluran muara air mata.
2. Konjungtiva Bulbi.
Tipis dan tembus pandang, dibagian anterior bulbus oculi. Dibaweah conjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon. Struktur sama dengan konjungtiva palpebra tanpa kelenjar. Dari limbus epitel konjungtiva berlanjut sebagai epitel kornea.
3. Konjungtiva Palpebra :
Sama dengan konjungtiva tarsalis berhubungan dengan tarsus sangat erat.
Vaskularisasi : Dari arteri kanjungtiva posterior dan arteri ciliaris anterior.
Syaraf : Dipersarafi oleh N. V.
KORNEA
Merupakan dinding dari bola mata. Sifat : mempunyai daya bias kornea : 40 – 50 dioptri dan tidak mempunyai pembuluh darah. Makanan berasal dari humos aquor secara inhibisi. Kornea terdiri dari 5 lapis :
1. Epitel
2. Lapisan Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. Endotel
Jika endotel rusak oleh karena sesuatu hal misal : trauma / operasi maka proses inhibisi terganggu. Cairan yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga cairan tertimbun didalam —–> Oedema kornea. Maka kornea jadi keruh. ——- > Penglihatan jadi terganggu.
IRIS
Bekerja sebagai diagfragma.
Bila kena cahaya keras –> Pupil mengecil ( miosis ). Bila kena cahaya sedikit –> Pupil melebar. ( Midriasis ).
Pupil yang terus-menerus midriasis, tidak bisa mengecil disebut : Iridoplegi. Pupil yang selalu merasa silau sehingga mata menutup secara paksa —-> Bleparospasme.
CORPUS SILIARE
Mempunyai fungsi untuk :
1. Menghasilkan humos Aquor.
2. Sebagai alat akomodasi.
Yaitu jika muskulus ciliare kontraksi maka zonula longgar sehingga lensa jadi cembung.
COROID
Fungsi : Memberi makann retina bagian dalam melalui pembuluh darah.
CAMERA OKULI ( SUDUT BILIK MATA )
Fungsi : Menghasilkan humos akuor. Normalnya aliran keluar sama dengan air masuk. Bila air masuk > dari air keluar, ——> Tekanan bola mata meninggi. yang disebut Glaukoma. Bila air keluar > air masuk, ——> tekanan bola mata menurun, disebut Hipotoni.
Tekanan bola mata yang normal : 10 – 20 mmHg.
Tekanan bola mata meninggi : > 25 mmHg.
LENSA
Fungsi : - Refraksi dengan daya bias 10 Dioptri
- Akomodasi
Lensa terdiri dari :
a. Kapsul yang semi permiable
b. Kortex
c. Nukleus.
Lensa merupakan jaringan avaskuler, makanan didapat dari Humos akuor.
PALPEBRA :
Dapat mengedip dan membuka kelopak. Bekerja sebagai diagfragma. Bila tidak dapat menutup disebut : Lagoptalmus. Bila palpebra menjadi kering disebut : Xerosis. Terutama waktu tidur, jika terjadi laggoptalmus—> maka kering ( xerosis ) sehingga mudah terjadi infeksi, maka terjadi keratitis dan lagoptalmus. Bila mata tidak dapat membuka dengan sempurna disebut : Ptosis
- Ptosis Partial : Biasanya terdapat kelainan musculus levator palpebra dan bersifat kongenital.
- Ptosis Total : Disebabkan oleh kelumpuhan syaraf III (Okulomotorius ) dan causa trauma.
KONJUNGTIVA :
Merupakan membran mukosa yang meliputi palpebra dan bola mata. Ada tiga bagian :
1. Konjungtiva forniks :
Struktur sama dengan palpebra. Hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan mengandung banyak pembuluh darah. Terdapat saluran muara air mata.
2. Konjungtiva Bulbi.
Tipis dan tembus pandang, dibagian anterior bulbus oculi. Dibaweah conjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon. Struktur sama dengan konjungtiva palpebra tanpa kelenjar. Dari limbus epitel konjungtiva berlanjut sebagai epitel kornea.
3. Konjungtiva Palpebra :
Sama dengan konjungtiva tarsalis berhubungan dengan tarsus sangat erat.
Vaskularisasi : Dari arteri kanjungtiva posterior dan arteri ciliaris anterior.
Syaraf : Dipersarafi oleh N. V.
KORNEA
Merupakan dinding dari bola mata. Sifat : mempunyai daya bias kornea : 40 – 50 dioptri dan tidak mempunyai pembuluh darah. Makanan berasal dari humos aquor secara inhibisi. Kornea terdiri dari 5 lapis :
1. Epitel
2. Lapisan Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. Endotel
Jika endotel rusak oleh karena sesuatu hal misal : trauma / operasi maka proses inhibisi terganggu. Cairan yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga cairan tertimbun didalam —–> Oedema kornea. Maka kornea jadi keruh. ——- > Penglihatan jadi terganggu.
IRIS
Bekerja sebagai diagfragma.
Bila kena cahaya keras –> Pupil mengecil ( miosis ). Bila kena cahaya sedikit –> Pupil melebar. ( Midriasis ).
Pupil yang terus-menerus midriasis, tidak bisa mengecil disebut : Iridoplegi. Pupil yang selalu merasa silau sehingga mata menutup secara paksa —-> Bleparospasme.
CORPUS SILIARE
Mempunyai fungsi untuk :
1. Menghasilkan humos Aquor.
2. Sebagai alat akomodasi.
Yaitu jika muskulus ciliare kontraksi maka zonula longgar sehingga lensa jadi cembung.
COROID
Fungsi : Memberi makann retina bagian dalam melalui pembuluh darah.
CAMERA OKULI ( SUDUT BILIK MATA )
Fungsi : Menghasilkan humos akuor. Normalnya aliran keluar sama dengan air masuk. Bila air masuk > dari air keluar, ——> Tekanan bola mata meninggi. yang disebut Glaukoma. Bila air keluar > air masuk, ——> tekanan bola mata menurun, disebut Hipotoni.
Tekanan bola mata yang normal : 10 – 20 mmHg.
Tekanan bola mata meninggi : > 25 mmHg.
LENSA
Fungsi : - Refraksi dengan daya bias 10 Dioptri
- Akomodasi
Lensa terdiri dari :
a. Kapsul yang semi permiable
b. Kortex
c. Nukleus.
Lensa merupakan jaringan avaskuler, makanan didapat dari Humos akuor.
PALPEBRA :
Dapat mengedip dan membuka kelopak. Bekerja sebagai diagfragma. Bila tidak dapat menutup disebut : Lagoptalmus. Bila palpebra menjadi kering disebut : Xerosis. Terutama waktu tidur, jika terjadi laggoptalmus—> maka kering ( xerosis ) sehingga mudah terjadi infeksi, maka terjadi keratitis dan lagoptalmus. Bila mata tidak dapat membuka dengan sempurna disebut : Ptosis
- Ptosis Partial : Biasanya terdapat kelainan musculus levator palpebra dan bersifat kongenital.
- Ptosis Total : Disebabkan oleh kelumpuhan syaraf III (Okulomotorius ) dan causa trauma.
KONJUNGTIVA :
Merupakan membran mukosa yang meliputi palpebra dan bola mata. Ada tiga bagian :
1. Konjungtiva forniks :
Struktur sama dengan palpebra. Hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan mengandung banyak pembuluh darah. Terdapat saluran muara air mata.
2. Konjungtiva Bulbi.
Tipis dan tembus pandang, dibagian anterior bulbus oculi. Dibaweah conjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon. Struktur sama dengan konjungtiva palpebra tanpa kelenjar. Dari limbus epitel konjungtiva berlanjut sebagai epitel kornea.
3. Konjungtiva Palpebra :
Sama dengan konjungtiva tarsalis berhubungan dengan tarsus sangat erat.
Vaskularisasi : Dari arteri kanjungtiva posterior dan arteri ciliaris anterior.
Syaraf : Dipersarafi oleh N. V.
KORNEA
Merupakan dinding dari bola mata. Sifat : mempunyai daya bias kornea : 40 – 50 dioptri dan tidak mempunyai pembuluh darah. Makanan berasal dari humos aquor secara inhibisi. Kornea terdiri dari 5 lapis :
1. Epitel
2. Lapisan Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. Endotel
Jika endotel rusak oleh karena sesuatu hal misal : trauma / operasi maka proses inhibisi terganggu. Cairan yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga cairan tertimbun didalam —–> Oedema kornea. Maka kornea jadi keruh. ——- > Penglihatan jadi terganggu.
IRIS
Bekerja sebagai diagfragma.
Bila kena cahaya keras –> Pupil mengecil ( miosis ). Bila kena cahaya sedikit –> Pupil melebar. ( Midriasis ).
Pupil yang terus-menerus midriasis, tidak bisa mengecil disebut : Iridoplegi. Pupil yang selalu merasa silau sehingga mata menutup secara paksa —-> Bleparospasme.
CORPUS SILIARE
Mempunyai fungsi untuk :
1. Menghasilkan humos Aquor.
2. Sebagai alat akomodasi.
Yaitu jika muskulus ciliare kontraksi maka zonula longgar sehingga lensa jadi cembung.
COROID
Fungsi : Memberi makann retina bagian dalam melalui pembuluh darah.
CAMERA OKULI ( SUDUT BILIK MATA )
Fungsi : Menghasilkan humos akuor. Normalnya aliran keluar sama dengan air masuk. Bila air masuk > dari air keluar, ——> Tekanan bola mata meninggi. yang disebut Glaukoma. Bila air keluar > air masuk, ——> tekanan bola mata menurun, disebut Hipotoni.
Tekanan bola mata yang normal : 10 – 20 mmHg.
Tekanan bola mata meninggi : > 25 mmHg.
LENSA
Fungsi : - Refraksi dengan daya bias 10 Dioptri
- Akomodasi
Lensa terdiri dari :
a. Kapsul yang semi permiable
b. Kortex
c. Nukleus.
Lensa merupakan jaringan avaskuler, makanan didapat dari Humos akuor.
PALPEBRA :
Dapat mengedip dan membuka kelopak. Bekerja sebagai diagfragma. Bila tidak dapat menutup disebut : Lagoptalmus. Bila palpebra menjadi kering disebut : Xerosis. Terutama waktu tidur, jika terjadi laggoptalmus—> maka kering ( xerosis ) sehingga mudah terjadi infeksi, maka terjadi keratitis dan lagoptalmus. Bila mata tidak dapat membuka dengan sempurna disebut : Ptosis
- Ptosis Partial : Biasanya terdapat kelainan musculus levator palpebra dan bersifat kongenital.
- Ptosis Total : Disebabkan oleh kelumpuhan syaraf III (Okulomotorius ) dan causa trauma.
KONJUNGTIVA :
Merupakan membran mukosa yang meliputi palpebra dan bola mata. Ada tiga bagian :
1. Konjungtiva forniks :
Struktur sama dengan palpebra. Hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan mengandung banyak pembuluh darah. Terdapat saluran muara air mata.
2. Konjungtiva Bulbi.
Tipis dan tembus pandang, dibagian anterior bulbus oculi. Dibaweah conjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon. Struktur sama dengan konjungtiva palpebra tanpa kelenjar. Dari limbus epitel konjungtiva berlanjut sebagai epitel kornea.
3. Konjungtiva Palpebra :
Sama dengan konjungtiva tarsalis berhubungan dengan tarsus sangat erat.
Vaskularisasi : Dari arteri kanjungtiva posterior dan arteri ciliaris anterior.
Syaraf : Dipersarafi oleh N. V.
KORNEA
Merupakan dinding dari bola mata. Sifat : mempunyai daya bias kornea : 40 – 50 dioptri dan tidak mempunyai pembuluh darah. Makanan berasal dari humos aquor secara inhibisi. Kornea terdiri dari 5 lapis :
1. Epitel
2. Lapisan Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. Endotel
Jika endotel rusak oleh karena sesuatu hal misal : trauma / operasi maka proses inhibisi terganggu. Cairan yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga cairan tertimbun didalam —–> Oedema kornea. Maka kornea jadi keruh. ——- > Penglihatan jadi terganggu.
IRIS
Bekerja sebagai diagfragma.
Bila kena cahaya keras –> Pupil mengecil ( miosis ). Bila kena cahaya sedikit –> Pupil melebar. ( Midriasis ).
Pupil yang terus-menerus midriasis, tidak bisa mengecil disebut : Iridoplegi. Pupil yang selalu merasa silau sehingga mata menutup secara paksa —-> Bleparospasme.
CORPUS SILIARE
Mempunyai fungsi untuk :
1. Menghasilkan humos Aquor.
2. Sebagai alat akomodasi.
Yaitu jika muskulus ciliare kontraksi maka zonula longgar sehingga lensa jadi cembung.
COROID
Fungsi : Memberi makann retina bagian dalam melalui pembuluh darah.
CAMERA OKULI ( SUDUT BILIK MATA )
Fungsi : Menghasilkan humos akuor. Normalnya aliran keluar sama dengan air masuk. Bila air masuk > dari air keluar, ——> Tekanan bola mata meninggi. yang disebut Glaukoma. Bila air keluar > air masuk, ——> tekanan bola mata menurun, disebut Hipotoni.
Tekanan bola mata yang normal : 10 – 20 mmHg.
Tekanan bola mata meninggi : > 25 mmHg.
LENSA
Fungsi : - Refraksi dengan daya bias 10 Dioptri
- Akomodasi
Lensa terdiri dari :
a. Kapsul yang semi permiable
b. Kortex
c. Nukleus.
Lensa merupakan jaringan avaskuler, makanan didapat dari Humos akuor.
PALPEBRA :
Dapat mengedip dan membuka kelopak. Bekerja sebagai diagfragma. Bila tidak dapat menutup disebut : Lagoptalmus. Bila palpebra menjadi kering disebut : Xerosis. Terutama waktu tidur, jika terjadi laggoptalmus—> maka kering ( xerosis ) sehingga mudah terjadi infeksi, maka terjadi keratitis dan lagoptalmus. Bila mata tidak dapat membuka dengan sempurna disebut : Ptosis
- Ptosis Partial : Biasanya terdapat kelainan musculus levator palpebra dan bersifat kongenital.
- Ptosis Total : Disebabkan oleh kelumpuhan syaraf III (Okulomotorius ) dan causa trauma.
KONJUNGTIVA :
Merupakan membran mukosa yang meliputi palpebra dan bola mata. Ada tiga bagian :
1. Konjungtiva forniks :
Struktur sama dengan palpebra. Hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan mengandung banyak pembuluh darah. Terdapat saluran muara air mata.
2. Konjungtiva Bulbi.
Tipis dan tembus pandang, dibagian anterior bulbus oculi. Dibaweah conjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon. Struktur sama dengan konjungtiva palpebra tanpa kelenjar. Dari limbus epitel konjungtiva berlanjut sebagai epitel kornea.
3. Konjungtiva Palpebra :
Sama dengan konjungtiva tarsalis berhubungan dengan tarsus sangat erat.
Vaskularisasi : Dari arteri kanjungtiva posterior dan arteri ciliaris anterior.
Syaraf : Dipersarafi oleh N. V.
KORNEA
Merupakan dinding dari bola mata. Sifat : mempunyai daya bias kornea : 40 – 50 dioptri dan tidak mempunyai pembuluh darah. Makanan berasal dari humos aquor secara inhibisi. Kornea terdiri dari 5 lapis :
1. Epitel
2. Lapisan Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. Endotel
Jika endotel rusak oleh karena sesuatu hal misal : trauma / operasi maka proses inhibisi terganggu. Cairan yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga cairan tertimbun didalam —–> Oedema kornea. Maka kornea jadi keruh. ——- > Penglihatan jadi terganggu.
IRIS
Bekerja sebagai diagfragma.
Bila kena cahaya keras –> Pupil mengecil ( miosis ). Bila kena cahaya sedikit –> Pupil melebar. ( Midriasis ).
Pupil yang terus-menerus midriasis, tidak bisa mengecil disebut : Iridoplegi. Pupil yang selalu merasa silau sehingga mata menutup secara paksa —-> Bleparospasme.
CORPUS SILIARE
Mempunyai fungsi untuk :
1. Menghasilkan humos Aquor.
2. Sebagai alat akomodasi.
Yaitu jika muskulus ciliare kontraksi maka zonula longgar sehingga lensa jadi cembung.
COROID
Fungsi : Memberi makann retina bagian dalam melalui pembuluh darah.
CAMERA OKULI ( SUDUT BILIK MATA )
Fungsi : Menghasilkan humos akuor. Normalnya aliran keluar sama dengan air masuk. Bila air masuk > dari air keluar, ——> Tekanan bola mata meninggi. yang disebut Glaukoma. Bila air keluar > air masuk, ——> tekanan bola mata menurun, disebut Hipotoni.
Tekanan bola mata yang normal : 10 – 20 mmHg.
Tekanan bola mata meninggi : > 25 mmHg.
LENSA
Fungsi : - Refraksi dengan daya bias 10 Dioptri
- Akomodasi
Lensa terdiri dari :
a. Kapsul yang semi permiable
b. Kortex
c. Nukleus.
Lensa merupakan jaringan avaskuler, makanan didapat dari Humos akuor.
PALPEBRA :
Dapat mengedip dan membuka kelopak. Bekerja sebagai diagfragma. Bila tidak dapat menutup disebut : Lagoptalmus. Bila palpebra menjadi kering disebut : Xerosis. Terutama waktu tidur, jika terjadi laggoptalmus—> maka kering ( xerosis ) sehingga mudah terjadi infeksi, maka terjadi keratitis dan lagoptalmus. Bila mata tidak dapat membuka dengan sempurna disebut : Ptosis
- Ptosis Partial : Biasanya terdapat kelainan musculus levator palpebra dan bersifat kongenital.
- Ptosis Total : Disebabkan oleh kelumpuhan syaraf III (Okulomotorius ) dan causa trauma.
KONJUNGTIVA :
Merupakan membran mukosa yang meliputi palpebra dan bola mata. Ada tiga bagian :
1. Konjungtiva forniks :
Struktur sama dengan palpebra. Hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan mengandung banyak pembuluh darah. Terdapat saluran muara air mata.
2. Konjungtiva Bulbi.
Tipis dan tembus pandang, dibagian anterior bulbus oculi. Dibaweah conjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon. Struktur sama dengan konjungtiva palpebra tanpa kelenjar. Dari limbus epitel konjungtiva berlanjut sebagai epitel kornea.
3. Konjungtiva Palpebra :
Sama dengan konjungtiva tarsalis berhubungan dengan tarsus sangat erat.
Vaskularisasi : Dari arteri kanjungtiva posterior dan arteri ciliaris anterior.
Syaraf : Dipersarafi oleh N. V.
KORNEA
Merupakan dinding dari bola mata. Sifat : mempunyai daya bias kornea : 40 – 50 dioptri dan tidak mempunyai pembuluh darah. Makanan berasal dari humos aquor secara inhibisi. Kornea terdiri dari 5 lapis :
1. Epitel
2. Lapisan Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. Endotel
Jika endotel rusak oleh karena sesuatu hal misal : trauma / operasi maka proses inhibisi terganggu. Cairan yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga cairan tertimbun didalam —–> Oedema kornea. Maka kornea jadi keruh. ——- > Penglihatan jadi terganggu.
IRIS
Bekerja sebagai diagfragma.
Bila kena cahaya keras –> Pupil mengecil ( miosis ). Bila kena cahaya sedikit –> Pupil melebar. ( Midriasis ).
Pupil yang terus-menerus midriasis, tidak bisa mengecil disebut : Iridoplegi. Pupil yang selalu merasa silau sehingga mata menutup secara paksa —-> Bleparospasme.
CORPUS SILIARE
Mempunyai fungsi untuk :
1. Menghasilkan humos Aquor.
2. Sebagai alat akomodasi.
Yaitu jika muskulus ciliare kontraksi maka zonula longgar sehingga lensa jadi cembung.
COROID
Fungsi : Memberi makann retina bagian dalam melalui pembuluh darah.
CAMERA OKULI ( SUDUT BILIK MATA )
Fungsi : Menghasilkan humos akuor. Normalnya aliran keluar sama dengan air masuk. Bila air masuk > dari air keluar, ——> Tekanan bola mata meninggi. yang disebut Glaukoma. Bila air keluar > air masuk, ——> tekanan bola mata menurun, disebut Hipotoni.
Tekanan bola mata yang normal : 10 – 20 mmHg.
Tekanan bola mata meninggi : > 25 mmHg.
LENSA
Fungsi : - Refraksi dengan daya bias 10 Dioptri
- Akomodasi
Lensa terdiri dari :
a. Kapsul yang semi permiable
b. Kortex
c. Nukleus.
Lensa merupakan jaringan avaskuler, makanan didapat dari Humos akuor.
ASKEP GANGGUAN FUNGSI PENGLIHATAN
PENGKAJIAN
1. RIWAYAT KESEHATAN
- Kapan sakit mata mulai dirasakan
- Apakah gangguan penglihatan ini mempengaruhi ketajaman penglihatan.
- Bagaimana gangguan penglihatan terjadi ( perlahan/tiba-tiba ).
- Apakah pasien merasakan ada perubahan dalam matanya ( kemerahan, bengkak, berair ).
- Apakah perubahan yang terjadi sama pada kedua matanya .
- Apakah pasien sedang berobat tertentu ( sebutkan ) dan sudah berapa lama menggunakannya.
- Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit serupa .
- Apakah pasien menderita : Hipertensi, DM
- Aapkah ada kerusakan melihat waktu senja.
HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN WAKTU PENGKAJIAN
a. Hilang penglihatan sementara ——> Gangguan peredaran darah otak.
b. Mata berair, mengantuk, silau dan sukar dibuka ——> Astenopia ( mata lelah ).
mata lelah : ——> letih, kaca mata tidak dipakai. Kaku akomodasi.
c. Penglihatan berkurang berlahan-lahan —-> Kelainan refraksi, gangguan sirkulasi dalam mata, kelaianan papil syaraf otak.
d. Melihat benda terbang —–> Kekeruhan badan kaca ( miopia tinggi, perdarahan badan kaca, uveitis, ablatio retina ).
e. Bentuk benda dilihat berubah ( perubahan warna, bengkak, membesar, mengecil).
—–> Astigmatisme, ablatio retina, epilepsi, intoksikasi obat, migren, histeria .
f. Penglihatan gelap total.
—–> Gangguan sirkulasi retina, hipotensi, spasme pembuluh darah, aritmia, anemia, koagulanopathi.
g. Sakit pada mata
—–> Hipermetropi, iritis, astigmatisme, iridoskilitis, glaukoma, kelainan sinus hidung.
h. Sakit sekitar mata dengan mata tenang.
—–> Stres, bekerja dengan mata terlalu lama, kelainan refraksi, kelainan sinus, glaukoma.
i. Fotopsia
—– > Migraen, retinitis, ablatio retina, epilepsi.
j. Mata kering dan panas.
——> Usila , alergi , keracunan obat, conjungtivitis.
k. Sakit sekitar dan dalam mata merah.
——-> Benda asing di kornea, alergi, glaukoma akut, skleritis, infeksi sinus paranasalis, iridosiklitis.
l. Mata berair
——-> Usila, benda sing di kornea, emosi, glaukoma, conjungtivitis, gangguan lakrimal.
2.RIWAYAT PERKEMBANGAN
NEONATUS
- Secara anatomis ukuran mata lebih lebar dibanding ukuran tubuh seluruhnya.
- Fungsi belum matur.
- Kornea lebih lebar, lebih datar dari organ dewasa.
- Mata edema beberapa hari, jarang membuka mata.
- Beberapa hari setelah lahir bereaksi terhadap sinar dengan menutup kelopak matanya.
- Pupil dilatasi dan pergerakan matanya tidak terkoordinir —-> mata seperti juling.
- 2 Minggu pertama kehidupan glandula lakrimalis belum ada.
INFANT
- Pupil kecil
- Terdapat air mata bila menangis.
- 1 bulan sudah dapat terfokus pada obyek yang diam, dalam jangkauan pandangannya.
- 2 Bulan mengikuti obyek yang bergerak ( cahaya, warna terang ).
- 3 Bulan kedua mata terkordinasi, melihat obyek dalam jangkauan penglihatannya.
- Secara refleks —–> 3 Bulan sudah dapat mengedip bila ada obyek yang menakutkan, dan kalau belum ada air mata perlu perhatian. anjurkan periksa.
- 4 – 6 bulan ketajaman pandangan mata meningkat menjadi 20/200. Anak menunjukan perhatian terhadap rangsang. Jarak 91cm. Mulai takut pada orang asing, mampu mengikuti obyek yg bergerak dengan baik, menatap obyek yang diletakkan pada tangannya dan membawanya kemulut –> koordinasi tangan & mata.
- 5 – 7 Bulan menunjukan warna-warna terang ( merah, kuning ).
- 9 Bulan mampu mengambil benda kecil
- 12 bulan ketajaman mata 20/100 dan alat matur.
ANAK
- 2 Tahun —–> kornea mencapai ukuran dewasa
- 3 Tahun —–> Anatomi mata amtur, pandangan kedua mata berkembang komplit.
- 2 Tahun ——> Ketajaman mata 20/60
- 3 Tahun ——> Ketajaman mata 20/30
- Masa pra sekolah —— Ketajaman 20/30 dan siap untuk membaca.
- 3 Tahun ——> Pengenalan warna berkembang. ( Minimal 2 Warna ).
- Masa sekolah —–> Ketajaman 20/20.
REMAJA :
Emetropia berkembang baik, dan bola mata mencapai ukuran dewasa.
DEWASA :
- Dengan meningkatnya usia, lensa mata kurang elastis, kemampuan untuk fokus kurang —–Presbiopi.
- 42 – 45 Tahun
Tidak mampu melihat, tidak mampu membaca dengan jarak selengan, tidak mampu memasukan benang ke jarum.
3. Riwayat Sosial
- Tanya usia pasien, bandingkan dengan perkembangan yang normal dari matanya.
- Data tentang pekerjaan :
* Kerja dengan obyek kecil
* Kerja dengan jarak dekat dengann obyek
* Kerja di ruang terlalu terang atau suram
- Data tentang Hoby
Hubungkan hobi dengan keluhannya.
4. Riwayat Psikologi
- Prilaku dan reaksi pasien serta keluarganya terhadap gangguan penglihatan yang dialami pasien
- Mekanisme koping yang biasa digunakan pasien dalam mennghadapi dan menngatasi masalah.
5. Pengkajian Fisik
a. Pemeriksaan tajam penglihatan ( visus ) kartu snelen. ——Huruf, angka, huruf E, arah kaki ( buta huruf- pra sekolah ).
Kartu snelen yanng ditempatkan 5 – 6 m di tempat yang cukup terang tapi tidak menyilaukan kemudian mata diperiksa sebelah-sebelah.
Penilaian :
- Bila pasien hanya dapat mengenali sampai pada huruf baris yang berkode 20 m dan pasien berjarak 5 m dari kartu maka tajam penglihatan 5 / 20.
- Bila huruf terbesar ( kode 60 m ) tidak terbaca. ——- dekatkan kartu snelen sampai pasien dapat melihat huruf yang pada jarak berapa.
contoh : Pada jarak 2 m baru adapat mengenal huruf yang terbesar ——- 2 / 60
- Bila huruf terbesar tidak adapat dikenal maka hitung jari : yaitu tangan digerakkan vertikal atau horizontal —– dapat mengenal atau tidak cahaya.
- Menghitung jari, goyangan tangan, persepsi cahaya oleh mata normal masih dapat dikenal pada jarak terjauh : 60 m, 300m dan tidak terhingga. Maka tajam penglihatan : 1/60, 1/300, 1/- .
- Bila persepsi cahaya —– dari mana arah cahaya yang datang.
- Bayi / Anak —— reaksi meraih benda, arah tetap, reaksi pupil, refleks menghindari cahaya.
TANDA-TANDA KERUSAKAN MATA
1. Kemerahan pada mata yang bertahan lama.
2. Rasa nyeri kontinyu terutama sesudah trauma
3. Mata tertutup / sulit dibuka pada anak.
4. Penglihatan kabur / merasa ada bintik-bintik/ benda yang melayang pada mata.
5. Ada sesuatu yang nampak tumbuh dalam mata yang transparan atau pada kelopak.
6. Keluarnya sekret atau cairan yang terus menerus.
7. Pupil ireguler.
b. Kedudukan bola mata :
Normal —— sejajar ( orthoforia )
Apakah ada : – Exoftalmus ( menonjol keluar )
- Enoftalmus ( masuk / kebelakang )
- Estropia ( juling kedalam )
- Ekstropia ( juling keluar )
c. Gerak Bola mata :
Apakah terganggu kearah tertentu ——– Parese
Apakah ada Nistagmus ( mata bergerak-gerak )
d. Palpebra :
Superior :
- Bengkak difus ——– Sindrom nefrotik, anemia, reaksi alergi, Hipertiroid.
- Ekimosis (perubahan warna ) ——- Trauma
- Merah ———- radang, tekanan.
- Ektropion ( kelopak mata melipat keluar )
- Entropion ( kelopak mata melipat kedalam )
- Ptosis ——— Paralisis, meningitis, BBLR.
- Bengkak berbatas tegas ——– Kalazion / Herdoulum.
- Lagoftalmus ( kelopak mata sulit menutup ).
- Sikatrik, jaringan parut.
Inferior :
- Bagaimana fungsi eksresi lakrimal
- Bengkak, merah, keluar sekret.
e. Konjungtiva :
- Apa ada papil, sikatrik, hordeolum.
- Warna : merah ——- Peradangan.
Pucat ——– Anemia
Kuning —— Hati
f. Konea :
- Mikro / makro kornea – Kerosis kornea
- Edema – Keratomalasia ( lembek dan menonjol )
- Erosi – Stapilo kornea ( korneo menonjol )
- Ulkus
- Sikatrik
- Perforasi kornea
g. Sklera :
Normal : Warna putih
Nyeri tekan ——– robekan kornea.
h. Iris :
normal —— warna sama kedua mata
Warna berbeda ——— kelainan kongenital.
i. Pupil :
Reaksi terhadap cahaya.
- Normal —— isokor
- Apakah midriasis / miosis
- Hipus ( berubah-ubah )
- Oklusi pupil ( tertutup jaringan karena radang )
- Seklusi pupil ( seluruh lingkaran pupil melekat pada dataran depan lensa ).
- Diameter pupil normal —– 3-4 ml.
- Obat-obatan pupil :
* Atropion —- pupilk dialatasi tidak bergerak.
* Ampetamin, kokain —– pupil dilatasi
* Morphin —— Pupil kontriksi
* Rasa takut —– Pupil dilatasi
j. Lensa :
- Jernih / keruh
- Letaknya normal / tidak
- Katarak total / parsial
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kemungkinannya :
1. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada mata sehubungan dengan proses penyakitnya.
2. Cemas sehubungan dengan berkurangnya penglihatan.
3. Gangguan konsep diri sehubungan dengan berkurangnya tajam penglihatan.
4. Cemas sehubungan dengan akan dilakukannya operasi mata.
5. Potensial terjadinya kecelakaan sehubungan dengan berkurangnya penglihatan.
6. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan tindakan infasif prosedur operasi.
III. PERENCANAAN
1. Untuk peningkatan kesehatan mata :
Peran perawat —— Pendidikan kesehatan
Jarak membaca —— 30 – 35 cm.
Pekerja dengan obyek kecil —- istirahat berkala.
Untuk mencegah kecelakaan :
* Anak-anak
Beri mainan yang meningkatkan perkembangan intelektual dan penglihatan, jangan beri mainan dgn benda tajam.
* Adult :
- Yang pakai kaca mata p ada waktu olahraga
- Pakai pelindung mata
* Pekerja dipabrik metal, zat kimia kuat sehingga zat kimia tidak masuk mata.
* Pekerja di ruang dengan cahay aterang / silau sehingga mengurangi jumlah cahaya yang masuk.
- Penggunaan kaca mata gelap sehingga sinar mata tidak menyilaukan.
2. Perencanaan untuk pemeliharaan dan pemulihan kesaehatan mata :
a. Meneteskan / memberi salf mata :
- Mengenal guna dan efek obat.
- Buang obat —– berubah warna, keruh, dan kadaluarsa.
- Cekl nama pasien dan obat.
- Pastikan mata yang harus diobati.
- Cuci tangan sebelum bekerja.
- Posisi pasien tidur, duduk, kepala agak tengadah, dan pasien disuruh lihat keatas.
- Tarik kelopak mata bawah dan teteskan obat dalam kantong konjungtiva.
- Bila dua tetes —- kedip mata —- tetes kedua.
- Pasien mengedipkan mata pelan-pelan.
- Beri kapas.
b.Kompres mata :
* Kompres hangat lembab
mengatasi rasa nyeri, mempercepat penyembuhan, membersihkan mata.
*Kompres dingin lembab :
Mengurangi edema, rasa gatal, mengatasi perdarahan sesudah trauma.
* Kompres hangat
- Suhu air maksimal : 49 C
- Kompres jangan smapai menekan bola mata.
c. Irigasi mata
d. Merawat kontak lensa.
1. RIWAYAT KESEHATAN
- Kapan sakit mata mulai dirasakan
- Apakah gangguan penglihatan ini mempengaruhi ketajaman penglihatan.
- Bagaimana gangguan penglihatan terjadi ( perlahan/tiba-tiba ).
- Apakah pasien merasakan ada perubahan dalam matanya ( kemerahan, bengkak, berair ).
- Apakah perubahan yang terjadi sama pada kedua matanya .
- Apakah pasien sedang berobat tertentu ( sebutkan ) dan sudah berapa lama menggunakannya.
- Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit serupa .
- Apakah pasien menderita : Hipertensi, DM
- Aapkah ada kerusakan melihat waktu senja.
HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN WAKTU PENGKAJIAN
a. Hilang penglihatan sementara ——> Gangguan peredaran darah otak.
b. Mata berair, mengantuk, silau dan sukar dibuka ——> Astenopia ( mata lelah ).
mata lelah : ——> letih, kaca mata tidak dipakai. Kaku akomodasi.
c. Penglihatan berkurang berlahan-lahan —-> Kelainan refraksi, gangguan sirkulasi dalam mata, kelaianan papil syaraf otak.
d. Melihat benda terbang —–> Kekeruhan badan kaca ( miopia tinggi, perdarahan badan kaca, uveitis, ablatio retina ).
e. Bentuk benda dilihat berubah ( perubahan warna, bengkak, membesar, mengecil).
—–> Astigmatisme, ablatio retina, epilepsi, intoksikasi obat, migren, histeria .
f. Penglihatan gelap total.
—–> Gangguan sirkulasi retina, hipotensi, spasme pembuluh darah, aritmia, anemia, koagulanopathi.
g. Sakit pada mata
—–> Hipermetropi, iritis, astigmatisme, iridoskilitis, glaukoma, kelainan sinus hidung.
h. Sakit sekitar mata dengan mata tenang.
—–> Stres, bekerja dengan mata terlalu lama, kelainan refraksi, kelainan sinus, glaukoma.
i. Fotopsia
—– > Migraen, retinitis, ablatio retina, epilepsi.
j. Mata kering dan panas.
——> Usila , alergi , keracunan obat, conjungtivitis.
k. Sakit sekitar dan dalam mata merah.
——-> Benda asing di kornea, alergi, glaukoma akut, skleritis, infeksi sinus paranasalis, iridosiklitis.
l. Mata berair
——-> Usila, benda sing di kornea, emosi, glaukoma, conjungtivitis, gangguan lakrimal.
2.RIWAYAT PERKEMBANGAN
NEONATUS
- Secara anatomis ukuran mata lebih lebar dibanding ukuran tubuh seluruhnya.
- Fungsi belum matur.
- Kornea lebih lebar, lebih datar dari organ dewasa.
- Mata edema beberapa hari, jarang membuka mata.
- Beberapa hari setelah lahir bereaksi terhadap sinar dengan menutup kelopak matanya.
- Pupil dilatasi dan pergerakan matanya tidak terkoordinir —-> mata seperti juling.
- 2 Minggu pertama kehidupan glandula lakrimalis belum ada.
INFANT
- Pupil kecil
- Terdapat air mata bila menangis.
- 1 bulan sudah dapat terfokus pada obyek yang diam, dalam jangkauan pandangannya.
- 2 Bulan mengikuti obyek yang bergerak ( cahaya, warna terang ).
- 3 Bulan kedua mata terkordinasi, melihat obyek dalam jangkauan penglihatannya.
- Secara refleks —–> 3 Bulan sudah dapat mengedip bila ada obyek yang menakutkan, dan kalau belum ada air mata perlu perhatian. anjurkan periksa.
- 4 – 6 bulan ketajaman pandangan mata meningkat menjadi 20/200. Anak menunjukan perhatian terhadap rangsang. Jarak 91cm. Mulai takut pada orang asing, mampu mengikuti obyek yg bergerak dengan baik, menatap obyek yang diletakkan pada tangannya dan membawanya kemulut –> koordinasi tangan & mata.
- 5 – 7 Bulan menunjukan warna-warna terang ( merah, kuning ).
- 9 Bulan mampu mengambil benda kecil
- 12 bulan ketajaman mata 20/100 dan alat matur.
ANAK
- 2 Tahun —–> kornea mencapai ukuran dewasa
- 3 Tahun —–> Anatomi mata amtur, pandangan kedua mata berkembang komplit.
- 2 Tahun ——> Ketajaman mata 20/60
- 3 Tahun ——> Ketajaman mata 20/30
- Masa pra sekolah —— Ketajaman 20/30 dan siap untuk membaca.
- 3 Tahun ——> Pengenalan warna berkembang. ( Minimal 2 Warna ).
- Masa sekolah —–> Ketajaman 20/20.
REMAJA :
Emetropia berkembang baik, dan bola mata mencapai ukuran dewasa.
DEWASA :
- Dengan meningkatnya usia, lensa mata kurang elastis, kemampuan untuk fokus kurang —–Presbiopi.
- 42 – 45 Tahun
Tidak mampu melihat, tidak mampu membaca dengan jarak selengan, tidak mampu memasukan benang ke jarum.
3. Riwayat Sosial
- Tanya usia pasien, bandingkan dengan perkembangan yang normal dari matanya.
- Data tentang pekerjaan :
* Kerja dengan obyek kecil
* Kerja dengan jarak dekat dengann obyek
* Kerja di ruang terlalu terang atau suram
- Data tentang Hoby
Hubungkan hobi dengan keluhannya.
4. Riwayat Psikologi
- Prilaku dan reaksi pasien serta keluarganya terhadap gangguan penglihatan yang dialami pasien
- Mekanisme koping yang biasa digunakan pasien dalam mennghadapi dan menngatasi masalah.
5. Pengkajian Fisik
a. Pemeriksaan tajam penglihatan ( visus ) kartu snelen. ——Huruf, angka, huruf E, arah kaki ( buta huruf- pra sekolah ).
Kartu snelen yanng ditempatkan 5 – 6 m di tempat yang cukup terang tapi tidak menyilaukan kemudian mata diperiksa sebelah-sebelah.
Penilaian :
- Bila pasien hanya dapat mengenali sampai pada huruf baris yang berkode 20 m dan pasien berjarak 5 m dari kartu maka tajam penglihatan 5 / 20.
- Bila huruf terbesar ( kode 60 m ) tidak terbaca. ——- dekatkan kartu snelen sampai pasien dapat melihat huruf yang pada jarak berapa.
contoh : Pada jarak 2 m baru adapat mengenal huruf yang terbesar ——- 2 / 60
- Bila huruf terbesar tidak adapat dikenal maka hitung jari : yaitu tangan digerakkan vertikal atau horizontal —– dapat mengenal atau tidak cahaya.
- Menghitung jari, goyangan tangan, persepsi cahaya oleh mata normal masih dapat dikenal pada jarak terjauh : 60 m, 300m dan tidak terhingga. Maka tajam penglihatan : 1/60, 1/300, 1/- .
- Bila persepsi cahaya —– dari mana arah cahaya yang datang.
- Bayi / Anak —— reaksi meraih benda, arah tetap, reaksi pupil, refleks menghindari cahaya.
TANDA-TANDA KERUSAKAN MATA
1. Kemerahan pada mata yang bertahan lama.
2. Rasa nyeri kontinyu terutama sesudah trauma
3. Mata tertutup / sulit dibuka pada anak.
4. Penglihatan kabur / merasa ada bintik-bintik/ benda yang melayang pada mata.
5. Ada sesuatu yang nampak tumbuh dalam mata yang transparan atau pada kelopak.
6. Keluarnya sekret atau cairan yang terus menerus.
7. Pupil ireguler.
b. Kedudukan bola mata :
Normal —— sejajar ( orthoforia )
Apakah ada : – Exoftalmus ( menonjol keluar )
- Enoftalmus ( masuk / kebelakang )
- Estropia ( juling kedalam )
- Ekstropia ( juling keluar )
c. Gerak Bola mata :
Apakah terganggu kearah tertentu ——– Parese
Apakah ada Nistagmus ( mata bergerak-gerak )
d. Palpebra :
Superior :
- Bengkak difus ——– Sindrom nefrotik, anemia, reaksi alergi, Hipertiroid.
- Ekimosis (perubahan warna ) ——- Trauma
- Merah ———- radang, tekanan.
- Ektropion ( kelopak mata melipat keluar )
- Entropion ( kelopak mata melipat kedalam )
- Ptosis ——— Paralisis, meningitis, BBLR.
- Bengkak berbatas tegas ——– Kalazion / Herdoulum.
- Lagoftalmus ( kelopak mata sulit menutup ).
- Sikatrik, jaringan parut.
Inferior :
- Bagaimana fungsi eksresi lakrimal
- Bengkak, merah, keluar sekret.
e. Konjungtiva :
- Apa ada papil, sikatrik, hordeolum.
- Warna : merah ——- Peradangan.
Pucat ——– Anemia
Kuning —— Hati
f. Konea :
- Mikro / makro kornea – Kerosis kornea
- Edema – Keratomalasia ( lembek dan menonjol )
- Erosi – Stapilo kornea ( korneo menonjol )
- Ulkus
- Sikatrik
- Perforasi kornea
g. Sklera :
Normal : Warna putih
Nyeri tekan ——– robekan kornea.
h. Iris :
normal —— warna sama kedua mata
Warna berbeda ——— kelainan kongenital.
i. Pupil :
Reaksi terhadap cahaya.
- Normal —— isokor
- Apakah midriasis / miosis
- Hipus ( berubah-ubah )
- Oklusi pupil ( tertutup jaringan karena radang )
- Seklusi pupil ( seluruh lingkaran pupil melekat pada dataran depan lensa ).
- Diameter pupil normal —– 3-4 ml.
- Obat-obatan pupil :
* Atropion —- pupilk dialatasi tidak bergerak.
* Ampetamin, kokain —– pupil dilatasi
* Morphin —— Pupil kontriksi
* Rasa takut —– Pupil dilatasi
j. Lensa :
- Jernih / keruh
- Letaknya normal / tidak
- Katarak total / parsial
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Kemungkinannya :
1. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada mata sehubungan dengan proses penyakitnya.
2. Cemas sehubungan dengan berkurangnya penglihatan.
3. Gangguan konsep diri sehubungan dengan berkurangnya tajam penglihatan.
4. Cemas sehubungan dengan akan dilakukannya operasi mata.
5. Potensial terjadinya kecelakaan sehubungan dengan berkurangnya penglihatan.
6. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan tindakan infasif prosedur operasi.
III. PERENCANAAN
1. Untuk peningkatan kesehatan mata :
Peran perawat —— Pendidikan kesehatan
Jarak membaca —— 30 – 35 cm.
Pekerja dengan obyek kecil —- istirahat berkala.
Untuk mencegah kecelakaan :
* Anak-anak
Beri mainan yang meningkatkan perkembangan intelektual dan penglihatan, jangan beri mainan dgn benda tajam.
* Adult :
- Yang pakai kaca mata p ada waktu olahraga
- Pakai pelindung mata
* Pekerja dipabrik metal, zat kimia kuat sehingga zat kimia tidak masuk mata.
* Pekerja di ruang dengan cahay aterang / silau sehingga mengurangi jumlah cahaya yang masuk.
- Penggunaan kaca mata gelap sehingga sinar mata tidak menyilaukan.
2. Perencanaan untuk pemeliharaan dan pemulihan kesaehatan mata :
a. Meneteskan / memberi salf mata :
- Mengenal guna dan efek obat.
- Buang obat —– berubah warna, keruh, dan kadaluarsa.
- Cekl nama pasien dan obat.
- Pastikan mata yang harus diobati.
- Cuci tangan sebelum bekerja.
- Posisi pasien tidur, duduk, kepala agak tengadah, dan pasien disuruh lihat keatas.
- Tarik kelopak mata bawah dan teteskan obat dalam kantong konjungtiva.
- Bila dua tetes —- kedip mata —- tetes kedua.
- Pasien mengedipkan mata pelan-pelan.
- Beri kapas.
b.Kompres mata :
* Kompres hangat lembab
mengatasi rasa nyeri, mempercepat penyembuhan, membersihkan mata.
*Kompres dingin lembab :
Mengurangi edema, rasa gatal, mengatasi perdarahan sesudah trauma.
* Kompres hangat
- Suhu air maksimal : 49 C
- Kompres jangan smapai menekan bola mata.
c. Irigasi mata
d. Merawat kontak lensa.
Februari 23, 2010
KU CINTA MEREKA
BEGITULAH DIRIKU KINI…BAHKAN TERKADANG LUPA DENGAN KEWAJIBANKU SEBAGAI SEORANG MUSLIM…
HHMM….KUARUNGI KEHIDUPANKU SELAMA INI BENAR-BENAR TAK MEMBERIKAN SEDIKITPIN MAKNA TENTANG ARTI SEBENARNYA DARI KEHIDUPAN INI,,,
UNTUK APA KITA HIDUP DAN APA YANG HARUS KITA LAKUKAN DI TERMPAT PERSINGGAHAN INI..
AKU DARI KELUARGA YANG SANGAT SEDERHANA, KADANG SERING DIHINGGAPI KEKURANGAN KEBUTUHAN HIDUP YANG SERI8NG MEMBUATKU SEMBUNYI DIKAMAR LALU MENANGIS..APA YANG AKU PIKIRKAN SAAT ITU ADALAH
“TERNYATA BEGINILAH SITUASI KELUARGAKU YANG SEBENARNYA” HUHH…KALAU SAJA AKU PUNYA PILIHAN TENTULAH AKU MEMILIH UNTUK HIDUP DIATAS KEMEWAHAN YANG ABADI..AKU TAK PERLU MENANGIS JIKA SESUATU YANG KUINGINKAN TAK DAPAT DIPENUHI,,,APALAGI DENGAN USIAKU SEKARANG YANG SUDAH MENGINJAK KEPALA DUA…SUDAH MENJADI SOSOK GADIS REMAJA DEWASA YANG LUAR BIASA TAPI BIASA-BIASA SAJA..HINGGA SUTU KETIKA AKU TERMENUNG MELIHAT KEDUA ORANG TUAKU…
IYAH…..SOSOK WANITA HEBAT DAN PRIA TANGGUH YANG TAK PERNAH MENYERAH MELALUI HIDUP INI…MEMPUNYAI DELAPAN ANAK ITU BUKAN SATU HALANGN BUAT PAPAKU YANG MENJADI TULANG PUNGGUNG SATU-SATUNYA DALAM KELUARGA KAMI..PROFESINYA SEBAGAI SEORANG PETANI..
SUNGGUH LUAR BIASA SANG KHALIK MENCIPTAKAN MANUSIA DIBUMI INI, SEMUA TENTULAH ADA MAKSUD DAN TUJUAN…
SLALU KUKATAKAN “TUHAN TAHU TAPI MENUNGGU” INI ADALAH SATU KALIMAT YANG SANGAT MENGINSPIRSIKU MENJALANI HIDUP INI, KUDAPATKA DARI SEORANG PENULIS MUDA TERKENAL YANG MELAMBUNG DI NOVELNYA YANG BERJUDUL LASKAR PELANGI…
***********
BEGITULAH CARA ALLAH MENYAYANGI KELUARGAKU…DINAHKODAI PAPAKU LAHIRLAH SAUDARA-SUDARA YANG LUARBISASA, MEREKA MENJADI SOSOK YANG SANGAT ENGGAN UNTUK MENCERITAK KESULITANNYA KEPADA BELIAU, ENTAH ADA MAKSUD APA YANG TERSEMBUNYI DIBALIK SEMUA INI,NAMUN SECARA LOGIKA AKU BISA MEMAHAMI INI SEMUA AGAR KEDUA ORANG TUAKU TAK MERASA TERBEBANI DENGN MASALAH ANAK-ANAKNYA..SUNGGUH MULIA MEREKA DIMATAKU JIKA APA YANG KUPIKIRKAN INI BENAR-BENAR TERJADI..!! DAN ITU PULA YANG KURASAKAN HARI INI, AKU TUMBUH DEWASA DENGAN SENDIRINYA..TAK NEKO-NEKO SEPERTI YANG LAINNYA…BAHKAN AKU TERBIASA HIDUP JAUH DARI KASIH SAYANG ORANG TUA..NAMUN DARI KEJAUHAN INILAH YANG YANG MEMBUATKU SEMAKIN MENYAYANGI KEDUANYA..BETAPA BERHARGANYA MEREKA BAGIKU..WALAUPUN TERKADANG SERING TERBESIT DIHATI INI MERASA TAK DICINTAI KEDUANYA…ALLAH AKAN BENAR-BENAR MURAKA DENGAN ANGGAPANKU ITU…TAPI INI SEMUAR MASIH WAJAR DIRASAKAN OLEH SEORANG ANAK MANUSIA..!!
AKU SLALU BERUSAHA APA YAG KUTOREHKAN INI MENGALIR DENGAN SENDIRINYA, TANPA ADA SYAIR-SYAIR INDAH YANG DI BUMBUI UNTUK MEMBUAT ORANG LAIN TERTARIK MEMBACANYA SEBAGAIMANA CARA ORANG TUAKU MENDIDIKKU HINGGA KINI
HHMM….KUARUNGI KEHIDUPANKU SELAMA INI BENAR-BENAR TAK MEMBERIKAN SEDIKITPIN MAKNA TENTANG ARTI SEBENARNYA DARI KEHIDUPAN INI,,,
UNTUK APA KITA HIDUP DAN APA YANG HARUS KITA LAKUKAN DI TERMPAT PERSINGGAHAN INI..
AKU DARI KELUARGA YANG SANGAT SEDERHANA, KADANG SERING DIHINGGAPI KEKURANGAN KEBUTUHAN HIDUP YANG SERI8NG MEMBUATKU SEMBUNYI DIKAMAR LALU MENANGIS..APA YANG AKU PIKIRKAN SAAT ITU ADALAH
“TERNYATA BEGINILAH SITUASI KELUARGAKU YANG SEBENARNYA” HUHH…KALAU SAJA AKU PUNYA PILIHAN TENTULAH AKU MEMILIH UNTUK HIDUP DIATAS KEMEWAHAN YANG ABADI..AKU TAK PERLU MENANGIS JIKA SESUATU YANG KUINGINKAN TAK DAPAT DIPENUHI,,,APALAGI DENGAN USIAKU SEKARANG YANG SUDAH MENGINJAK KEPALA DUA…SUDAH MENJADI SOSOK GADIS REMAJA DEWASA YANG LUAR BIASA TAPI BIASA-BIASA SAJA..HINGGA SUTU KETIKA AKU TERMENUNG MELIHAT KEDUA ORANG TUAKU…
IYAH…..SOSOK WANITA HEBAT DAN PRIA TANGGUH YANG TAK PERNAH MENYERAH MELALUI HIDUP INI…MEMPUNYAI DELAPAN ANAK ITU BUKAN SATU HALANGN BUAT PAPAKU YANG MENJADI TULANG PUNGGUNG SATU-SATUNYA DALAM KELUARGA KAMI..PROFESINYA SEBAGAI SEORANG PETANI..
SUNGGUH LUAR BIASA SANG KHALIK MENCIPTAKAN MANUSIA DIBUMI INI, SEMUA TENTULAH ADA MAKSUD DAN TUJUAN…
SLALU KUKATAKAN “TUHAN TAHU TAPI MENUNGGU” INI ADALAH SATU KALIMAT YANG SANGAT MENGINSPIRSIKU MENJALANI HIDUP INI, KUDAPATKA DARI SEORANG PENULIS MUDA TERKENAL YANG MELAMBUNG DI NOVELNYA YANG BERJUDUL LASKAR PELANGI…
***********
BEGITULAH CARA ALLAH MENYAYANGI KELUARGAKU…DINAHKODAI PAPAKU LAHIRLAH SAUDARA-SUDARA YANG LUARBISASA, MEREKA MENJADI SOSOK YANG SANGAT ENGGAN UNTUK MENCERITAK KESULITANNYA KEPADA BELIAU, ENTAH ADA MAKSUD APA YANG TERSEMBUNYI DIBALIK SEMUA INI,NAMUN SECARA LOGIKA AKU BISA MEMAHAMI INI SEMUA AGAR KEDUA ORANG TUAKU TAK MERASA TERBEBANI DENGN MASALAH ANAK-ANAKNYA..SUNGGUH MULIA MEREKA DIMATAKU JIKA APA YANG KUPIKIRKAN INI BENAR-BENAR TERJADI..!! DAN ITU PULA YANG KURASAKAN HARI INI, AKU TUMBUH DEWASA DENGAN SENDIRINYA..TAK NEKO-NEKO SEPERTI YANG LAINNYA…BAHKAN AKU TERBIASA HIDUP JAUH DARI KASIH SAYANG ORANG TUA..NAMUN DARI KEJAUHAN INILAH YANG YANG MEMBUATKU SEMAKIN MENYAYANGI KEDUANYA..BETAPA BERHARGANYA MEREKA BAGIKU..WALAUPUN TERKADANG SERING TERBESIT DIHATI INI MERASA TAK DICINTAI KEDUANYA…ALLAH AKAN BENAR-BENAR MURAKA DENGAN ANGGAPANKU ITU…TAPI INI SEMUAR MASIH WAJAR DIRASAKAN OLEH SEORANG ANAK MANUSIA..!!
AKU SLALU BERUSAHA APA YAG KUTOREHKAN INI MENGALIR DENGAN SENDIRINYA, TANPA ADA SYAIR-SYAIR INDAH YANG DI BUMBUI UNTUK MEMBUAT ORANG LAIN TERTARIK MEMBACANYA SEBAGAIMANA CARA ORANG TUAKU MENDIDIKKU HINGGA KINI
Februari 03, 2010
november
Selalu demikian di bulan Nopember ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Sore. Ya, pukul empat lebih, hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, sumur di luar pasti akan keruh lagi airnya, mestinya diberi atap nanti. Hujan. Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Seperti apakah bunyinya? Di atas atap, di dedaunan, di tanah becek, bahkan di kolam ikan yang berderet nun di luar? Aku tak tahu. Sunyi. Kecuali gelegar petir yang menghantam bumi. Ya, hanya itu yang kurasakan. Aku ingat kamu. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi. Bahkan juga menulis surat untukmu dalam suasana hujan kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor yang ironis. Aku rindu suratmu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, simpel dan terkadang menggetarkan. Namun mungkin kamu sudah kecewa dengan kenyataan yang kuungkapkan dalam suratku yang barusan kukirimkan. Mungkin kamu kebingungan dan terpaksa bertanya pada orang yang kebetulan pernah bertemu denganku, entah Mas SANDI atau RUDI, meski ada yang merasa tak berhak untuk mengatakan apa-apa karena aku sudah memintanya agar jangan dulu mengabarkan kehadiranku pada orang-orang untuk suatu alasan. Dan rentetan kemungkinan lainnya mengendap dalam benakku. Namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima realita dalam hidup yang penuh ketakterdugaan. Aku kesepian. Apa yang kulakukan. Duduk di kursi sembari mengangkat kaki, dan di rumah hanya ada aku sendiri. Aku membayangkan kamu. Sosok yang tak pernah kutemui. Hanya foto yang kamu kirimkan melengkapi imajinasi: seorang lelaki gondrong yang menarik, dan merasa dirinya secara psikologis sudah dewasa dalam usia 23 tahun. Heran, di luar belasan burung entah apa namanya berseliweran dalam guyuran hujan begini, apa yang mereka cari? Barangkali kamu lebih tahu ekologi dan mau berteori? Aku kedinginan. Aliran listrik padam. Barangkali segelas teh manis panas bisa menghangatkan tubuhku. Apakah di Bandung saat ini sedang hujan juga, dan kamu tengah bagaimana? Mengisap A Mild ditemani secangkir kopi panas? Menulis puisi, cerpen, esai, surat, atau tugas mata kuliah? Di kampus, di rumah, atau di suatu tempat entah? Membaca diktat, buku tertentu, karya sastra, atau komik? Di depan monitor komputer, mengobrol, atau nonton TV? Mendengarkan The Doors atau Ebiet G. Ade? Tidur atau makan? Salat Asar atau menggigil kehujanan? Atau mengguyur badan di kamar mandi? Atau tak melakukan apa-apa sama sekali? Cuma Tuhan yang tahu. Relasi yang aneh, katamu, karena lewat surat. Lalu kamu menyuruhku belajar internet biar bisa bikin e-mail dan tak perlu ke perpustakaan konvensional. Dan kamu janji akan mengajariku jika nanti bertemu. Bertemu. Aku juga ingin bertemu kamu. Namun untuk apa? Adakah makna dari pertemuan itu? Kubayangkan kamu sebagai Indra, temanku, yang membagi dunia lewat tangannya. Namun apa kamu bisa bahasa isyarat sederhana cara abjad? Kamu kecewa karena aku tuli? Apakah dalam surat pertamaku aku harus memberitahu siapa diriku secara mendetail? Aku telah mengambil risiko. Begitu pun kamu. Risiko untuk merelasi diri dan berinteraksi dengan orang asing. Sebuah silaturahmi yang kumulai, haruskah berakhir sia-sia? Aku berusaha menerima diriku sebagaimana adanya dan menjadi orang biasa, meski aku tahu orang-orang di sekitarku kecewa. Keluarga, teman-teman, sahabat dekat, sampai siapa saja yang memang merasa harus kecewa. Bertahun-tahun, ada belasan tahun mungkin, sejak usiaku 16 tahun sampai 25 tahun, kujalani hari dengan sunyi, sebuah dunia tanpa bunyi-bunyi. Bisakah kamu bayangkan? Ah, aku tak akan bisa mendengar permainan harmonikamu, lalu membandingkannya dengan permainan harmonika abangku. Atau denting gitarmu dengan Eric Clapton. Atau bagaimana suatu melodi tercipta dari puisi. Aku juga tak akan tahu warna suaramu saat memusikalisasikan puisi, berdeklamasi, menyanyi, tadarus, berperan dalam lakon teater, atau bicara biasa saja. Kamu masih ingat, dalam salah satu suratmu, kamu menulis: Setting: Kamar, 141000 - 21.20 WIB, Dewa 19 - Terbaik-terbaik. Gurun yang baik. Barangkali sekaranglah saatnya! Lalu kamu membiarkan selembar halaman kertas itu kosong. Aku mengerti artinya, kamu ingin aku memutar lagu tersebut, dan membiarkan Terbaik-terbaik bicara. Sesuatu yang tengah menggambarkan suasana hatimu saat itu? Sayang, aku tak bisa melakukannya. Kata teman-teman, lagu itu tentang cinta dan persahabatan. Kurasa aku harus bertanya pada Rie, Indra, atau Nana; apa ada yang punya teksnya? Ironis, bukan? Tampaknya kamu senang menulis dengan diiringi musik. Aku iri padamu. Karena aku ingin tahu juga seperti apa indahnya musik klasik itu, entah Mozart yang kata Indra melankolis; atau Chopin di masa silam, gumam Cecep Syamsul Hari dalam puisi Meja Kayu yang kembali muram-surealis, menulis lagu pedih tentang hujan2; atau tahu di mana letak jeniusnya Beethoven yang mencipta komposisi meski tuli; dan bisa mengerti mengapa ayahku sangat menyukai musik klasik selain country. Aku rindu bunyi gamelan, dan ingin kembali belajar menari. Entah jaipong Jugala, tari klasik Jawa, atau mungkin sendratari seperti yang sering kusaksikan di TVRI waktu kecil dulu. Aku ingin berperan sebagai Drupadi atau Srikandi, perpaduan antara kelembutan dan keperkasaan. Kamu lebih suka karakter Bima? Aku suka karakter Yudistira, ia satu-satunya yang (hampir) berhasil mencapai puncak Mahameru sementara saudara-saudaranya satu per satu berguguran. Kamu tahu artinya, kan? Aku lupa penggalan kisah ini dari komik wayang R.A. Kosasih atau majalah Ananda -- yang pernah kita baca waktu kanak-kanak dulu, meski mungkin dalam dimensi yang berbeda. Sudahlah, setidaknya aku bisa tahu minatmu, dan kamu tahu minatku. Aku tak tahu banyak tentang musik, padahal kamu pasti asyik sendiri dengan The Corrs, Dewa, Kubik, Jim Morrison, bahkan juga Jimi Hendrix. Mengapa sih dalam cerpenmu yang barusan dimuat koran, kamu menulis soal Jimi Hendrix dan Jim Morrison? Itu mengingatkanku pada Abuy teman SMU-ku yang sangat mengidolakan mereka dan senang cerita soal itu padaku, seolah merekalah yang bisa meluapkan kegelisahan terpendamnya yang liar menuju muara kebebasan. Lucu, adakah orang tuli yang begitu besar rasa ingin tahunya tentang sesuatu yang tak mungkin bisa dirasakan. Katakan aku aneh. Aku memang orang aneh. Namun aku juga berharap bisa tahu lebih banyak tentang Iqbal, Rumi, Camus, Dylan, Gibran, Cummings, Malna, sampai Rendra. Ya, itu jika kita bertemu. Mungkinkah itu? Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih menghantam ruang terdalam. Aku butuh kawan. Kamukah orangnya? Tidak, kamu mungkin sudah berharap agar aku jadi seseorang yang ke lima setelah kamu kecewa dengan sekian perempuan yang masuk dalam hidupmu, meski itu terlalu dini karena kita baru tiga kali saling menyurati. Semudah itukah hatimu terpaut, atau kamu cuma ingin mengujiku? Tidak. Aku tak berharap apa-apa darimu. Aku hanya ingin jadi kawanmu. Kawan biasa. Bukan pacar. Meski aku juga ingin punya pacar, sebagaimana perempuan kebanyakan. Seseorang yang membuatku jatuh cinta sungguhan. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang di mana bisa berbagi dunia. Naifkah? Hujan. Aku kembali memandang ke luar jendela kaca. Di sana gunung begitu dekat dengan latar pepohonan seperti hamparan permadani hijau kebiruan, dan kabut yang mengental; terasa beku dalam pelukan kegaiban-Nya. Ya Tuhan, barusan kulihat kilatan petir membelah langit desa di sebelah utara. Subhanallah, indah sekali bentuknya; kilatan warna perak yang abstrak dengan latar kelabu. Aku membayangkan bagaimana seandainya jika petir tiba-tiba menghajarku. Sudahlah, mungkin lebih baik aku membayangkan diriku sebagai Walter Spies atau Alain Compost; akan kuabadikan keindahan panorama hujan. Tidak. Aku bukan mereka. Aku cuma punya kata-kata. Bukan kuas atau kamera. Namun kata-kata yang berhamburan dari mulutku pasti tak akan kamu mengerti sepenuhnya jika kita berbicara. Kamu akan membutuhkan waktu untuk mengenali warna suaraku yang kacau intonasinya, seperti teman-teman dekatku. Mungkin cukup lama. Apakah kita akan bertemu dan bicara seolah kawan lama dengan akrabnya? Atau kaku lalu merasa sia-sia? Aku bukan May Ziadah, Elizabeth Whitcomb, Mabel Hubbard-Graham Bell, Marlee Matlin, atau Jane Mawar. Atau perpaduan perempuan mana yang pernah kau kenal.
ya rabb....
Aku tau apa yang harus kulakukan...tapi banyak yang tak pasti dihati ini...semakin ku berontak semakin aku terikat...
ya sang maha pemilik apa yang ada di bumi ini...apa ini satu teguran lagi buatkku???aku takut salah melangkah...begitu berat cobaan yang kau berikan, hingga diri ini semakin tak berdaya..
apa yang harus kulakukan ya Allah.....
kuatkan Aku....biarkan diri tercambuk oleh tegurn Mu jika nantinya akan ada hal-hal baik yang menunggu ku di depan...
ya sang maha pemilik apa yang ada di bumi ini...apa ini satu teguran lagi buatkku???aku takut salah melangkah...begitu berat cobaan yang kau berikan, hingga diri ini semakin tak berdaya..
apa yang harus kulakukan ya Allah.....
kuatkan Aku....biarkan diri tercambuk oleh tegurn Mu jika nantinya akan ada hal-hal baik yang menunggu ku di depan...
Langganan:
Postingan (Atom)